Begini Seharusnya Langkah Cantik Istri Mencegah KDRT

Sekarang ini lagi ramai kasus Rezky Billar dan Lesti Kejora ya ibu-ibu?

Gosip hot nih yang lagi trending dimana-mana. Berita yang keluar dan yang kita percayai saat ini adalah suaminya membanting dan mencekik istri karena emosi setelah dituduh berselingkuh.

Seperti apa kronologinya, kita belum tahu pasti. Jadi, yang akan kita bahas disini bukanlah berita Rezky Billar dan Lesti Kejora melainkan bagaimana cara mengantisipasi atau mencegah terjadinya KDRT.

Apakah KDRT bisa dicegah Mbak Meida? Inshallah bisa. Lalu bagaimana caranya Mbak? Simak live streaming saya sampai akhir ya.

Tapi sebelum kita diskusi bareng, saya ingin ibu membantu saya membagikan link live streaming saya ini sebanyak mungkin.

Boleh dibagikan di grup-grup WhatsApp, grup-grup Facebook atau dibagikan ke siapapun yang menurut ibu membutuhkan materi ini.

Siapa tahu dengan membagikan materi ini, teman, kerabat atau saudara ibu ikut bergabung dan terinspirasi dari sini ya.

Sehingga mereka jadi lebih mudah mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Inshallah ini akan jadi ladang pahala juga bagi ibu.

Sudah dibagikan ya? Alhamdulillah, terima kasih. Baiklah, sekarang kita lanjutkan.

Coba saya mau dengar nih, komentar ibu-ibu semuanya disini mengenai kasus KDRT Rezky Billar dan Lesti Kejora. Jika ibu menjadi Lesti, kira-kira tindakan apa yang akan ibu lakukan?

  1. Apakah langsung menceraikan suami?
  2. Apakah menceraikan dan mempolisikan?
  3. Apakah berdamai dan balikan?

Ayo ditulis sini pendapatnya, saya ingin tahu jika ibu-ibu (amit-amit ya) jadi korban KDRT, tindakan seperti apa yang akan ibu lakukan?

Dari kebanyakan kasus KDRT yang saya terima, korban disini tidak berani melapor pada pihak berwajib. Tidak berani melakukan tuntutan perceraian pada suami.

Pertama, tidak berani melapor pada yang berwajib karena takut jika sang suami memiliki citra buruk di mata lingkungan sosialnya.

“Nanti mental anak-anak saya gimana Mbak, kalau tahu bapaknya ini pernah jadi narapidana dengan tuduhan melakukan kekerasan terhadap ibunya?”

“Saya takut kalau anak-anak saya dipojokkan lingkungan sosialnya karena bapaknya ini pernah dipenjara.”

Ini ketakutan pertama. Ketakutan kedua terjadi pada istri yang belum berani bersikap mandiri. Bukan hanya mandiri dari segi finansial saja ya. Tapi juga belum mandiri secara emosional.

Contoh, ada klien saya yang diam saja tidak berani menceraikan suami setelah di KDRT karena kebetulan klien saya bergantung secara finansial dengan sang suami.

Ada lagi klien saya yang bekerja, memiliki penghasilan sendiri, tapi di KDRT suaminya ya tetap saja tidak mau pisah. Nah, setelah saya selidiki ternyata beliau ini bergantung secara emosional dengan suami.

Apa-apa selalu minta tolong dikerjakan suami, merasa sepi kalau tidak ada suami, kesehariannya hanya kerja lalu pulang, tidak belajar bersosialisasi dengan yang lain, sehingga ketika disiksa suami secara verbal maupun fisik, beliau tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bingung. Karena dia menganggap suamiku adalah pahlawanku yang selalu membantuku mengerjakan segala hal.

Dari sini sudah terlihat jawaban sebenarnya ya, tentang bagaimana cara mencegah KDRT. Yakni, belajar mandiri. Jangan bergantung 100% pada suami dalam segala bidang.

Jika ibu disini mampu untuk bekerja, maka bekerjalah. Tidak peduli berapa hasilnya yang penting belajar mandiri secara finansial dulu.

Jika ibu disini apa-apa selalu dikerjakan suami, mulai sekarang belajarlah menguasai segala pekerjaan rumah tangga. Bukan untuk memonopoli urusan rumah tangga ya. Tapi untuk mengantisipasi KDRT itu tadi lho.

Contoh jika selama ini suami selalu ganti tabung gas, ibu juga harus belajar. Sesekali nanti ibu sendiri yang pasang. Jika selama ini selalu dimanja suami dan hal ini membuat ibu kerdil dalam mengurus urusan rumah tangga, ini harus dihindari.

Karena ketika terjadi hal yang tidak ibu inginkan seperti KDRT, maka ibu tidak akan takut membuat keputusan. Karena ibu tidak bergantung 100% secara emosional dengan suami.

Kemudian langkah kedua untuk mencegah KDRT adalah membangun ikatan emosional dengan suami. Perbanyak mendengarkan suami, bertanya mengenai masa kecilnya (seperti apa dulu diperlakukan orang tuanya) karena ini sangat mempengaruhi respon suami terhadap aksi ibu.

Orang yang temperamental biasanya sewaktu kecil tidak diajari orang tuanya mengenal dan mengekspresikan emosi secara tepat. Anak itu sejak kecil harus diajarkan definisi emosi yang tepat, bagaimana cara mengekspresikan dan mengendalikannya.

Marah itu seperti apa, apa penyebabnya, bagaimana cara mengungkapkan kemarahan. Sedih itu seperti apa, apa penyebabnya dan bagaimana cara mengungkapkan kesedihan dsb.

Nah, anak-anak yang tidak diajak berkenalan dengan emosi maka mereka cenderung mengekspresikannya dengan cara yang salah. Marah dengan cara banting barang, sedih dengan cara menangis berlebihan dan terlalu larut dst.

Jika suami ibu ternyata temperamental, maka ibu perlu mendekati suami secara emosional. Memang sebagai istri, ikhtiarnya perlu ekstra sabar ya. Bicara pakai nada lembut, mendekati lebih dulu, bertanya lebih dulu, jadi pribadi yang selalu hangat dsb.

Inshallah 2 cara sederhana ini jika diterapkan secara konsisten bisa membantu mencegah terjadinya KDRT. Karena seringkali KDRT terjadi itu karena luapan emosi. Maka, tindakan preventifnya adalah membantu suami mengelola emosinya.

Loading

Suami Hanya DIAM Saat Bertengkar? Ini Cara Slay Menghadapinya

Saya sering banget baca komentar dari teman-teman di media sosial bahwa tiap kali bertengkar, sang suami ini hobi diam.

Ada yang ditinggal sibuk main HP, nutup telinga pakai guling, ada yang ditinggal pergi padahal istri masih nyerocos tiada henti.

Intinya jika ditarik kesimpulan suami ini saat bertengkar responnya hanya diam. Padahal disini istri sedang mengeluarkan uneg-unegnya dengan cara emosi.

Artinya, dia butuh ditenangkan oleh suaminya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, suami yang pergi menenangkan diri. Ini sedikit lucu ya.

Kemudian banyak yang bertanya pada saya, “bagaimana Mbak Meida cara menghadapi suami yang hanya diam saat bertengkar seperti ini?”

Diamnya suami ibu ini bukan tanpa alasan. Kemungkinan dia sudah pernah berbicara dan memberikan solusi tapi tidak ibu dengarkan karena ibu mengutamakan emosinya.

Ayo siapa disini yang suka bersikap begini? Harus berani jujur lho ya!

Ada juga suami yang bosan atau jenuh mendengar istrinya ngomel, dia tidak mau menambah masalah baru sehingga memilih untuk diam.

Apapun alasan dibalik diamnya suami, jelas ini tidak baik dan tidak boleh diteruskan. Sebagai anggota keluarga yang waras, ibu harus mencari cara untuk membuat suami mau mengungkapkan pendapatnya saat bertengkar.

Salah satu cara yang bisa ibu manfaatkan adalah dengan mencari waktu untuk ngobrol berdua. Pastikan saat mengajak ngobrol berdua, suami ibu dalam keadaan bagus moodnya.

Selanjutnya, ibu bisa gunakan nada yang lembut, halus dan sedikit manja. Jelaskan pada suami bahwa “pertengkaran-pertengkaran yang selama ini sering terjadi sebenarnya bisa dihindari jika kita berdua mau jujur mengungkapkan emosi masing-masing.”

“Kira-kira apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa nyaman mengungkapkan keinginan ataupun emosimu? Apakah aku harus memulainya lebih dulu atau aku perlu lebih rajin lagi bertanya padamu?”

Selanjutnya ibu dan suami bisa bicara jujur dari hati ke hati mengenai bagaimana kita ingin diperlakukan. Inshallah hal ini bisa mengurai konflik dan mengantisipasi diamnya suami saat berkonflik.

“Saran Mbak Meida ini sudah pernah saya coba tapi tidak berhasil!”

Nah, akan ada orang yang bicara seperti ini. Jika sudah bicara berdua dari hati ke hati tapi hasilnya zonk, maka ada masalah dengan diri suami ibu.

Jadi, yang bermasalah disini bukan ibu melainkan suaminya. Kemungkinan sejak kecil dia terbiasa dididik orang tuanya dengan cara menahan emosi, tidak mengungkapkan keinginan dengan cara bicara jujur.

Akhirnya terbawa hingga dewasa dan tiap kali ada masalah, reaksinya hanya diam. Dan, jika seperti ini maka yang bisa ibu lakukan adalah mengendalikan apa yang bisa ibu kendalikan.

Suami ibu sudah jelas di luar kendali ibu, dia tak bisa ibu kendalikan karena saat diajak bicara berdua dia hanya diam. Sekarang ibu pilah dan pilih, hal-hal apa saja yang bisa ibu kendalikan.

Contoh, emosi ibu. Suami pulang sampai larut malam tiap hari, ibu sudah ajak suami bicara tapi tidak ada kemajuan dalam sikapnya.

Maka, kendalikan emosi ibu. Tidak perlu marah, ngambek atau kecewa, yang terpenting disini suami masih mau pulang. Seperti itu ibu. Jika suami sudah tidak bisa dikendalikan, kontrollah apa yang berada di bawah kendali ibu.

Semoga tips sederhana ini bermanfaat dan bisa diterapkan sehingga mendatangkan kebaikan bagi rumah tangga ibu.

Jangan lupa silakan subscribe channel YouTube saya ini, Terapi Memaafkan Suami. Tiap hari saya selalu rajin membagikan video mengenai strategi dan metode psikospritual dalam ikhtiar menjaga keharmonisan rumah tangga.

Nyalakan juga notifikasinya agar ibu selalu mendapatkan up to date dengan info terbaru dari saya.

Loading

ADUH! Begini Ternyata Cara Suami Anda Memperlakukan Selingkuhannya

Ibu-ibu pasti penasaran, bagaimana suami saya memperlakukan selingkuhannya selama ini. Apakah sama seperti ketika saya diperlakukan suami?

Ataukah selingkuhannya itu hanya didekati saat suami butuh? Atau justru selingkuhannya itu diratukan melebihi istri sahnya?

Sebelum saya jelaskan lebih detil, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 08586 7777 797. Ibu bisa menghubungi saya melalui chat WhatsApp maupun telepon kemudian menjelaskan detil masalahnya kepada saya.

>> Saya Siap Ikuti Bimbingan Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu pesan dari ibu.

Jujur saja, sebenarnya saya malas membahas tema semacam ini. Yang berkaitan dengan suami memperlakukan selingkuhannya.

Karena ketika suami ibu berselingkuh dan ibu tetap ingin mempertahankan rumah tangganya, maka yang perlu ibu lakukan adalah FOKUS pada rumah tangganya.

Bukan sibuk kepo, mencari tahu selingkuhan suami ini seperti apa, bagaimana suami memperlakukan selingkuhannya dsb.

Sebenarnya wajar jika ibu ingin tahu, pasti ibu penasaran. Tapi, saran saya cukup cari tahu seperlunya.

Sampai ibu mengantongi bukti otentik perselingkuhan suami, mengetahui apa tujuan dari selingkuhannya ini, bagaimana latar belakangnya, itu sudah cukup untuk dijadikan kunci-kunci membuat strategi menghadapi pelakor.

Tapi, cukup banyak klien saya yang penasaran “bagaimana sih Mbak, perasaan suami saya ke selingkuhannya ini?” “Siapa yang menggoda duluan, siapa yang terus mengejar, bagaimana suami saya memperlakukan selingkuhannya?”

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan satu jawaban. Tidak ada jawaban standar untuk pertanyaan ini. Karena tiap suami yang berselingkuh, mereka memiliki motif yang berbeda-beda.

Ada yang memang tidak mampu mengontrol syahwatnya. Maka, sikap orang ini terhadap selingkuhannya ya dicari hanya saat kebutuhan biologisnya mendesak kemudian dibayar.

Ada suami yang berselingkuh karena selama ini nyaman sering didengarkan curhatannya, sering diapresiasi, selalu dikasih makan egonya. Maka, sikap orang ini terhadap selingkuhannya ya nempel terus, sulit lepas dan kemungkinan ikatan emosional mereka cukup kuat karena perselingkuhannya diawali dengan sentuhan emosi.

Coba sekarang ibu cari tahu, kira-kira apa motif suami berselingkuh. Hal ini bisa ibu tanyakan langsung pada suami saat mood suami bagus.

Suami ibu mungkin akan menjawab iseng, tidak sengaja, aku nggak tahu, dia yang menggoda lebih dulu dsb. Dari sini bisa terlihat bahwa suami ibu memang tidak seserius itu menjalin hubungan dengan pihak ketiga.

Maka ibu bisa mengambil kesempatan untuk lebih gigih lagi dalam berikhtiar sehingga suami tidak bersikap seenaknya sendiri

Suami ibu mungkin juga akan ada yang mengelak, tidak sepenuhnya jujur atau bahkan merespon dengan cara marah dan menghindar. Jika hal ini terjadi, maka tahan dulu. Jangan dipaksa untuk jujur atau mendesak mengakuinya.

Yang terpenting, pesan dari saya adalah FOKUS BERIKHTIAR menjaga keutuhan rumah tangga ibu. Tidak peduli bagaimana suami memperlakukan selingkuhannya, yang terpenting adalah ibu tetap fokus.

Inshallah melalui fokusnya ibu ini, inshallah akan mendatangkan banyak manfaat untuk ibu dan keluarga.

Loading

AWAS! Ini Kesalahan Fatal Pasutri pada 5 Tahun Pertama Pernikahan

Awal-awal menikah pasangan suami istri memasuki masa bulan madu. Semuanya terasa manis, tidak ada cela bahkan kesalahan sedikit saja yang dilakukan pasangan dianggap sebagai hal yang tidak pantas ditegur.

Momen seperti ini biasanya hanya terjadi pada 5 tahun pertama pernikahan. Setelah melewati masa 5 tahun atau tepat pada tahun kelima, biasanya pasutri banyak yang mengalami kejenuhan dan ledakan bom waktu.

Karena selama 5 tahun pertama tadi mereka banyak memendam dan menahan. Suami suka pulang larut malam, tidak pernah ditegur karena istri takut terjadi suami marah dan terjadi konflik besar.

Suami suka meletakkan barang sembarangan setelah dipakai dan istri lah yang selalu membereskan tanpa bantuan suami, tidak pernah ditegur. Karena istri takut suami marah dan terjadi konflik besar.

Istri tidak pandai mengatur keuangan dan boros, tidak pernah ditegur suami. Karena takut istri ngambek dan tidak sayang lagi.

Semua emosi, uneg-uneg dan ganjalan hati yang disimpan ini lama-lama akan menumpuk kemudian ditekan terus dalam ruang batin. Akhirnya ruang batin kita akan penuh kemudian muntah dan meledak keluar.

Terjadilah konflik hebat pada 5 tahun pertama pernikahan. Ada yang selingkuh, ada yang kemudian makin berulah, ada yang tak lagi peduli pada istrinya karena hambar dan alami kejenuhan, ada lagi yang langsung minta cerai.

Itulah kenapa banyak orang menganggap 5 tahun pertama pernikahan adalah ujian. Dan, inilah yang sebenarnya terjadi.

Yakni pasangan suami istri yang masih dalam kondisi bulan madu, tidak berani mengungkapkan emosinya secara jujur. Mereka menghindar, menutupi, memendam, menganggap masalah kecil sebagai angin lalu.

Ini dilakukan karena mereka masih sayang dan segan jika harus menegur pasangannya. Takut terjadi konflik. Padahal, yang terjadi ketika kita terus menahan diri adalah kita akan capek, jenuh dan terjadi bom waktu yang siap meledak kapanpun.

Jadi, inilah kesalahan fatal pasangan suami istri pada 5 tahun pertama pernikahan mereka. Yakni, tidak mengungkapkan emosi secara jujur pada pasangan.

Seharusnya ibu dan suami jujur saja saat merasakan sedih, kecewa, bahagia, marah, jengkel dsb. Jangan takut pasangan akan menjadi tidak sayang atau tidak peduli.

Jangan takut jika akan terjadi konflik besar. Konflik itu dibutuhkan dalam rumah tangga agar kita semakin kreatif mengatasi masalah, kompak, bijaksana dan dewasa dalam menghadapi tantangan berumah tangga.

Seperti itu tips sederhana dari saya, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan sehingga mendatangkan kebaikan bagi rumah tangganya.

Jangan lupa silakan subscribe channel YouTube saya ini, Mbak Meida. Tiap hari saya selalu rajin membagikan video mengenai strategi dan metode psikospritual dalam ikhtiar menjaga keharmonisan rumah tangga.

Nyalakan juga notifikasinya agar ibu selalu mendapatkan up to date dengan info terbaru dari saya.

Loading

Jurus Ampuh Atasi Pelakor yang Mengaku Sebagai Korban

Kali ini kita akan kembali membahas tema perselingkuhan. Lebih tepatnya dari sisi pelakor yang seringkali setelah ketahuan selingkuh dengan suami orang, dia akan mengaku sebagai korban.

“Kok bisa ya Mbak Meida, pelakor mengaku sebagai korban. Padahal dia dan suami adalah pelaku lalu korbannya adalah saya, istri sahnya.”

Ya tentu saja bisa ibu. Hal ini dilakukan pelakor sebagai bentuk pembelaan diri. Mana ada sih pencuri yang mau mengakui kesalahannya. Yang ada kalau dia mengakui, bisa-bisa digebukin massa.

Nah sebelum saya jelaskan secara detil kenapa pelakor mengakui dirinya sebagai korban dan bagaimana cara menghadapi hal semacam ini, saya ingin ibu membantu saya membagikan link live streaming saya ini sebanyak mungkin.

Boleh dibagikan di grup-grup WhatsApp, grup-grup Facebook atau dibagikan ke siapapun yang menurut ibu membutuhkan materi ini.

Siapa tahu dengan membagikan materi ini, kemudian teman, kerabat atau saudara ibu ikut bergabung dan terinspirasi dari sini ya.

Sehingga mereka jadi lebih mudah mendapatkan solusi dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Inshallah ini akan jadi ladang pahala juga bagi ibu.

Sudah dibagikan ya? Alhamdulillah, terima kasih. Baiklah, sekarang kita lanjutkan.

Jadi, kenapa pelakor bisa mengakui dirinya sebagai korban? Karena dia dalam keadaan tersudut sehingga perlu membela diri.

Karena posisinya sudah tersudut, pihak ketiga mungkin alami tekanan dan ketakutan. Akhirnya, dia tidak mau jadi satu-satunya orang yang disalahkan. Dia mengaku sebagai korban suami ibu.

Mungkin pihak ketiga ini akan berkata, “saya ini korban, suami ibu yang menggoda lebih dulu, suami ibu yang mendekat dan mendesak lebih dulu, saya sudah menolak tapi suami ibu menangis, memohon dan meminta saya untuk bertahan.”

Dan lain sebagainya. Ada banyak macam kalimat yang dibuat oleh pihak ketiga, sehingga yang tersangka utama dan satu-satunya adalah suami ibu.

“Kalau sudah begini, lalu apa yang bisa saya lakukan Mbak Meida? Kata suami, pelakor yang menggodanya lebih dulu. Tapi kata pelakor, suami menggodanya lebih dulu. Siapa yang bisa saya percaya Mbak Meida?”

Yang perlu ibu percayai adalah diri ibu sendiri. Bukan suami maupun pelakor. Karena posisinya disini baik suami maupun pihak ketiga, sama-sama ingin menjaga imej atau citra dirinya. Agar tidak terkesan tetap baik di mata ibu.

Saran saya, jangan sampai ibu percaya kemudian iba pada pelakor. Karena ada klien saya yang percaya dengan kata-kata pihak ketiga ini.

Jadi, pihak ketiga yang dilabrak oleh klien saya mengakui dirinya sebagai korban dan berjanji akan meninggalkan suaminya. Klien saya termakan oleh janji manis si pelakor.

Selanjutnya klien saya dan pihak ketiga ini menjadi akrab serta saling curhat satu sama lain. Waduh, ini bahaya ya.

Curahan hati kita adalah kelemahan kita. Maka kita perlu berhati-hati memilih teman curhat karena dia bisa mengetahui senjata untuk mematikan atau memusnahkan kita.

Dan, semua tindakan ini dilakukan klien di luar sepengetahuan saya. Di luar bimbingan yang saya berikan. Dan, benar saja akhirnya pelakor menusuk klien saya dari belakang.

Semua curahan hati beliau tentang suaminya, bahwa si suami suka bersikap begini dan begitu, dilaporkan pada sang suami. Akhirnya suami murka dan pergi meninggalkan rumah. Perginya kemana, ya ke pelakor itu tadi.

Itulah kenapa sering saya ingatkan klien untuk menutup akses pihak ketiga. Jangan ada komunikasi sama sekali. Mereka ini manipulatif sekali ya, pandai berkata-kata sehingga mudah membuat orang lain iba.

Padahal itu adalah racun yang dia berikan pada ibu sehingga mental ibu luluh, tidak lagi gigih dan mudah dipengaruhi. Ini trik pihak ketiga yang perlu ibu waspadai ya.

Mereka menggunakan kelemahan, kondisinya yang terpojok agar dikasihani kemudian diberi hati. Setelah dapat hati, mereka akan memutarbalikkan fakta seolah ibulah yang bersikap jahat.

Nah, saya contohkan kisah klien saya disini agar bisa jadi pembelajaran bagi ibu. Apabila pelakor mengakui dirinya sebagai korban, maka jangan percaya. Jangan merasa iba.

Kalaupun memang benar dia adalah korban, lalu apa hubungannya dengan ibu? Tidak ada. Tugas ibu disini adalah menguatkan mentalnya sendiri pasca diselingkuhi suami dan menguatkan kegigihan dirinya menjaga keutuhan rumah tangganya.

Jadi saran saya jangan mudah terlena, jangan mudah iba dan kuatkan mental ibu diri sendiri. Apapun yang diungkapkan pihak ketiga, ibu tampung saja sebagai bahan referensi untuk membuat strategi ke depan.

Seperti itu ibu ya. Semoga apa yang saya bagikan disini bisa bermanfaat, pelan-pelan diterapkan dalam rumah tangganya sehingga tercipta keharmonisan, keutuhan dan keselarasan.

Bagi yang mengalami masalah rumah tangga serupa, maka jangan segan untuk berkonsultasi dengan cara menghubungi saya melalui chat maupun telepon di nomor 08111 26 4401.

>> Saya Siap Mendapat Bimbingan Mbak Meida <<

Atau bagi yang ada di instagram boleh banget untuk DM. Yang ada di facebook, silakan bisa mengirim pesan melalui inbox. Yang ada di TikTok juga bisa mengirim pesan langsung, mohon untuk akunnya jangan dikunci agar saya bisa balas pesan ibu-ibu.

Yang ada di YouTube bisa klik link yang ada di deskripsi di bawah video ini dan nanti akan tersambung langsung ke nomor whatsApp saya.

Loading

Cara Meredam Kecewa Saat Suami Terus Berulah Sesuka Hatinya

Apakah semuanya yang bergabung disini adalah ibu-ibu yang selalu dikecewakan suaminya? Semoga saja tidak ya. Oke, saya tadi hanya bercanda ibu-ibu.

Tapi jika memang benar, kebetulan ibu sudah sering dikecewakan oleh suami, maka tidak masalah. Kali ini ibu bergabung pada live streaming yang tepat. Karena saya akan membahas bagaimana cara meredam rasa kecewa.

Mungkin disini ada istri yang diselingkuhi suaminya, suaminya sudah berjanji akan meninggalkan selingkuhannya tapi tak kunjung dilakukan. Pasti ada rasa kecewa berat dong yang ibu rasakan.

Ada lagi istri yang tidak dinafkahi suaminya, tiap hari harus mengemis-ngemis pada suami minta jatah. Pasti ada rasa kecewa. Ada lagi istri yang sering dikasari suaminya baik secara verbal, fisik maupun emosional. Tentu hal ini memunculkan rasa kecewa.

“Hampir tiap hari Mbak Meida rasa kecewa itu mampir di hati saya karena ulah suami yang seenaknya. Bagaimana ya cara meredam kecewa ini agar tidak membuat saya makin stres dan tertekan?”

Ada 4 langkah untuk meredam rasa kecewa terhadap seseorang yang sering bersikap seenaknya sendiri pada kita.

Langkah Pertama adalah Mengakui Rasa Kecewa

Ini penting!

Agar ibu tidak bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya yakin disini banyak ibu-ibu yang sering denial terhadap rasa kecewanya.

Sebenarnya ibu kecewa, tapi ibu tidak mau mengakui hal itu. Ibu berkata pada dirinya sendiri, “gak kok! aku gak kecewa, aku baik-baik saja.”

Misalnya, ibu berharap suami memberikan kejutan pada hari ulang tahun perkawinan dan memberikan hadiah untuk ibu. Nyatanya hal itu tidak dilakukan suami.

Ibu sebenarnya sakit hati dan kecewa. Tapi ibu tidak mau mengakui hal itu. Ibu pendam saja rasa kecewanya, kemudian ibu berkata “aku baik-baik saja!”

Ini langkah yang tidak tepat.

Seharusnya, ibu akui rasa kecewa itu. Ibu terima bahwa ibu salah karena telah berharap lebih. Ibu terima bahwa ibu sedih. Dan ini tidak masalah, karena kecewa adalah perasaan dasar manusia.

Rasa sedih, kecewa, itu bukan indikator bahwa ibu lemah. Justru dengan mengakui, ibu jadi tahu apa yang harus diperbuat berikutnya.

“Oh iya, seharusnya saya lebih mampu mengontrol harapan saya. Suami saya ini kan pelupa, seharusnya saya ingatkan dulu bahwa tanggal sekian adalah hari penting kita.”

Jika ibu tidak mengakui rasa kecewanya, kita akan cenderung terus berharap. “Oh mungkin dia sedang memberikan kejutan, mau bikin saya jengkel dulu. Mungkin nanti jam 12 dia akan ngasih saya kejutan.”

Wah, kalau seperti ini terus ibu akan capek karena berharap pada hal yang tidak mungkin jadi kenyataan.

Langkah Kedua, Memahami Penyebab Kecewa

Ibu-ibu disini ada yang tahu apa yang menjadi penyebab rasa kecewa? Boleh banget tulis di kolom komentar. Silakan.

————- Baca Komentar ————-

Wah luar biasa follower saya cerdas semuanya. Jadi, penyebab rasa kecewa adalah berharap terlalu besar. Ekspektasi kita terhadap seseorang yang terlalu tinggi.

Misalnya, kita berharap suami selalu menjadi orang yang peka tanpa perlu diminta. Ketika ibu lagi sibuk di dapur kemudian tiba waktunya menjemput anak sekolah, ibu banting-banting peralatan dapur. Berharap suami paham bahwa ibu sedang sibuk kemudian dia bergegas menjemput anak.

Tapi kenyataannya suami tidak merespon. Dia justru tetap sibuk dengan urusannya sendiri. Nah, akhirnya ibu kecewa. “Kok kamu gak peka sih!” Itu yang ibu katakan ke suami.

Padahal bukan karena suami yang tidak peka, tapi ekspektasi ibu yang terlalu tinggi terhadap suami. Saran saya, turunkan ekspektasinya. Makin kecil harapan ibu ke suami, makin kecil pula kekecewaan yang ibu rasakan.

Langkah Ketiga, Mempersiapkan Porsi untuk Kecewa

Untuk semua hal yang ibu lakukan dan rencanakan, siapkan porsi khusus dalam ruang batin ibu untuk kecewa. Misalnya, minggu depan adalah ulang tahun ibu.

Ibu berharap suami ingat, memberikan kejutan pada tengah malam, merencanakan dinner berdua dan memberi hadiah untuk ibu.

Ibu boleh berharap seperti itu. Tapi, berikan sedikit ruang untuk kecewa. Contohnya, “yang penting suami masih ingat lah dengan tanggal ulang tahun saya, masih mau mendoakan saya dan memberikan ucapan selamat.”

Hindari ngotot bahwa harapan ibu pasti akan terwujud 100%. Karena jika ibu ngotot, ini akan jadi malapetaka bagi ibu.

Langkah Keempat, Memahami Apa yang Bisa Ibu Kontrol

Yang membuat kita kecewa seringkali bukan orang lain melainkan diri sendiri. Kita berharap orang lain mau bersikap sesuai keinginan kita, kita ingin mengontrol tindakan orang lain.

Nah, mulai sekarang agar ibu tidak kecewa terhadap suami yang bersikap seenaknya, silakan buat daftar minimal 10 poin. Hal-hal yang bisa ibu kontrol.

Contoh, ibu berharap suami selalu pulang on time sebelum pukul 6 sore. Tapi suami ibu seringkali pulang terlambat sampai larut malam. Ibu sudah menasihati bahkan sampai mengemis pada suami tapi suami tetap saja bandel pulang larut.

Ini artinya, suami ibu berada di luar kendali ibu. Mulai sekarang, ibu harus pahami hal-hal apa saja yang bisa saya kontrol. Hal-hal apa saja yang bisa saya kendalikan. Tulis sampai 10 poin kemudian dihafalkan.

Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak ibu harapkan, ibu tidak kecewa. Karena ibu sudah tahu bahwa ini memang di luar kendali saya.

Baik, itulah 4 poin yang perlu ibu pelajari dan terapkan pelan-pelan sehingga ibu tidak mudah kecewa terhadap suaminya.

Loading

Tersiksa Batin! 11 Tahun Menikah Suami Belum Usai dengan Masa Lalu

Kali ini saya akan bercerita mengenai kasus klien saya yang mana suaminya memiliki unfinished business dengan orang tuanya.

Unfinished business adalah memori atau emosi yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu. Emosi atau pengalaman ini tidak diekspresikan karena terlalu menyakitkan, malas ngobrol atau dianggap sebagai angin lalu.

Unfinished business tidak boleh diremehkan. Seperti yang terjadi pada kasus klien saya, emosi atau pengalaman masa lalu yang tidak diekspresikan bahkan disimpan rapat ternyata bisa menjadi bom waktu di masa depan. Dan, ini mempengaruhi hubungan seseorang dengan pasangannya.

Pengaruhnya kalau positif sih tidak masalah ya, tapi bagaimana jika negatif? Silakan simak penjelasan saya sampai akhir dan catat juga nomor konsultasi saya di 08111 26 4401.

Jika ibu mengalami masalah rumah tangga apapun itu silakan jangan sungkan hubungi nomor tadi bisa melalui chat WhatsApp maupun telepon.

Konsultasi saya bersifat profesional, saya tidak hanya mendengarkan layaknya teman atau keluarga ibu yang sedang dicurhati. Saya mendengarkan secara seksama dan memberikan treatment serta evaluasi terhadap masalah yang ibu hadapi.

Jadi, mohon jangan ditunda untuk berkonsultasi meski masalah yang ibu hadapi terkesan sepele. Karena masalah yang sepele bisa menjadi bibit unfinished business seperti yang akan saya kisahkan disini.

Klien saya bercerita bahwa suaminya dulu memiliki keluarga yang tidak harmonis. Sang ayah selingkuh dan melakukan KDRT terhadap ibunya.

Ibunya ini seorang ibu rumah tangga, kesehariannya hanya bergantung pada ayahnya. Jadi, bisa dikatakan sang ibu tidak memiliki kuasa untuk membuat keputusan. Saat di KDRT dan diselingkuhi, sikap ibunya ya pasrah saja. Tidak ada pemberontakan sedikit pun.

Suami klien saya yang melihat kekerasan fisik dan emosional ini juga tidak berdaya karena masih kecil. Lalu, apa yang terjadi?

Anak ini tumbuh jadi anak pendiam, pemalu, penakut dan di saat yang sama memiliki kecemasan tinggi dan emosi yang sulit terkontrol.

Dia bahkan meniru beberapa sifat keras sang ayah yakni tidak bisa mendengarkan orang lain, bersikap seenaknya sendiri dan hobi membanting segala barang yang ada di dekatnya saat marah. Ini dibawa hingga dia dewasa bahkan setelah menikah dengan klien saya.

Lalu apa yang terjadi pada rumah tangga klien saya yang memiliki seorang suami dengan unfinished business? Suami klien saya memperlakukan klien saya hanya sebagai budak seks.

Dia tidak percaya cinta sejati, kasih sayang dan ketulusan itu benar-benar ada. Dia melihat ayahnya hanya menggunakan ibunya sebagai pelengkap status, sebagai sosok yang memberikan keturunan saja. Bukan sebagai pasangan hidup, rekan berbagi cerita suka dan duka.

Satu lagi yang terjadi pada rumah tangga klien saya, beliau juga alami KDRT persis seperti yang ayah mertuanya lakukan pada ibu mertuanya.

Padahal dulu sewaktu belum menikah, suaminya ini berjanji bahwa “saya sangat menghormati kamu sebagaimana saya menghormati ibu saya, saya tidak akan melukai kamu sebagaimana ayah saya melukai ibu saya, jika saya melanggar sumpah ini maka jangan segan tinggalkan saya.”

Tapi yang terjadi, suami klien saya justru melakukan kekerasan baik secara fisik maupun verbal.

Nah pelajaran yang bisa kita ambil dari kasus klien saya ini adalah selesaikan masalah dan trauma masa lalu sebelum memulai hubungan baru.

Sepele apapun emosi yang ibu rasakan, ungkapkan. Contoh, jika ibu jengkel pada suami karena hobi buang sampah sembarangan di rumah, suami suka meletakkan barang sesuka hatinya, pulang pergi seenaknya, tegurlah.

Ungkapkan kekesalan ibu agar tidak menumpuk hingga akhirnya menjadi unfinished business. Karena ini bisa jadi BOM WAKTU yang siap meledak kapanpun.

Ingat!

Emosi atau pengalaman yang terus disimpan, ditekan ke bawah dalam ruang batin maka ini akan membuat ruang batin kita penuh. Kalau sudah penuh, pasti meledak dan tumpah keluar.

Ini akibatnya akan lebih FATAL seperti perselingkuhan hingga perceraian tiba-tiba. Jadi, ayo selesaikan masalah-masalah emosi dan pengalaman yang belum selesai di masa lalu.

Loading

Ucap Terima Kasih Seperti Ini Bikin Suami Tak Mau Lepaskan Istri

Saat suami ibu tidak mendapatkan apresiasi, ucapan terima kasih atau penghargaan setelah apa yang dia lakukan untuk ibu, maka suami ibu lambat laun akan berhenti memberikan bantuan pada ibu.

“Apakah sedangkal itu cara berpikir suami Mbak? Hanya gara-gara gak dapat ucapan terima kasih langsung malas membantu?”

Benar ibu!

Karena tabiat atau naluri pria adalah suka dibangga-banggakan. Egonya sangat tinggi sehingga ibu perlu sering-sering memberi makan egonya. Apalagi jika disini suami dibangga-banggakan oleh istri yang disayanginya, inshallah dia akan lebih rajin lagi dalam memberi.

Sebelum saya lanjutkan, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 08586 7777 797 atau klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Mengikuti Bimbingan Spiritual Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu pesan dari ibu.

Wanita memiliki tabiat atau naluri yang bertolak belakang dengan pria. Jika pria atau dalam kasus ini adalah suami, sangat suka dibangga-banggakan maka wanita atau dalam kasus ini adalah istri, mereka tidak suka mengakui atau membanggakan kebaikan orang lain meskipun suaminya sendiri.

Istri itu makhluk yang sulit mengakui kebaikan atau kelebihan orang lain. Apalagi dalam keadaan marah atau jengkel, istri akan cenderung melupakan semua kebaikan yang telah dilakukan orang lain untuknya. Yang diingat, ya hanya keburukannya.

Nah, saran saya disini ibu harus mulai memperbaiki diri. Yakni mengakui dan memuji kebaikan yang telah dilakukan suami. Menunjukkan apresiasi, memberikan penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan suami pada ibu meski hanya hal sepele.

Jika ibu malas mengucapkan terima kasih, maka ke depan lambat laun suami akan berhenti memberi bantuan. Kepekaan, kepedulian dan perhatiannya terhadap ibu akan berkurang bahkan berhenti.

Sekali lagi ingat!

Untuk melunakkan hati suami, untuk membuatnya makin hari makin peduli pada ibu, maka ibu harus berpikir dan bersikap sesuai dengan tabiat atau naluri suami.

Jika suami memang sosok yang ingin diakui kebaikannya, dibangga-banggakan pengorbanannya, maka lakukan itu. Untuk membuat suami mau lebih sering membantu ibu.

Loading

Suami Tak Menafkahi Jika Tak Diminta? Rayulah dengan Cara Ini

Saya beberapa kali menemukan kasus klien dimana beliau ini tidak dinafkahi suaminya jika tidak meminta. Dan, rata-rata klien saya ini sudah bekerja. Pekerjaannya bagus, pemasukannya juga bagus.

Jadi, kemungkinan suami dalam tanda kutip malas menafkahi karena istri sudah ada pemasukan sendiri. Tentu, ini adalah cara berpikir suami yang tidak bijaksana.

Karena sebagus apapun karir istri, sebanyak apapun penghasilan yang didapatkan, nafkah dari suami tetap wajib dia dapatkan.

“Jika selama ini suami memang tak pernah memberi jika tak diminta bagaimana Mbak Meida?”

Nah, inilah yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini. Saya akan ajari ibu bagaimana caranya mendapatkan nafkah yang memang sudah seharusnya ibu dapatkan.

Sebelum saya lanjutkan, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 08586 7777 797 atau klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Mengikuti Bimbingan Spiritual Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu pesan dari ibu

Disini ibu perlu memahami naluri atau tabiat suami. Suami ibu itu memiliki naluri atau tabiat, “tidak akan memberi jika tidak diminta.”

Ini cara berpikir pria yang paling mendasar. Jadi, kalau ada ibu-ibu disini yang berkata, “suami saya selalu rajin memberi kok Mbak tanpa perlu saya minta.”

Bersyukurlah!

Berarti dia adalah suami yang mau belajar memahami kebutuhan istri dan rumah tangganya. Tapi, naluri suami ini perlu ibu ingat ya!

Suami tidak akan memberi jika tidak diminta. Kaum pria ini adalah sosok yang cenderung merasa cukup dengan dirinya sendiri dan merasa tidak membutuhkan orang lain. Dia hanya akan meminta, ketika benar-benar terdesak.

Dan, suami ibu berpikir bahwa wanita juga memiliki cara berpikir yang seperti ini. Yang mana dia akan meminta, ketika memang butuh.

Padahal tabiat atau naluri istri tidak seperti ini. Sifat dasar wanita yang dihadiahkan Tuhan pada kita adalah kita suka memberi baik diminta ataupun tidak.

Bahkan terkadang, kita tidak peduli apakah nanti dapat balasan setimpal atau tidak. Ini tabiat wanita dan bertolak belakang dengan tabiat pria.

Jika sudah seperti ini, maka istri supaya tidak sakit hati harus bersikap sesuai dengan cara berpikir suami. Yakni, kita harus meminta. Terus mengingatkan suami terhadap tanggung jawabnya.

“Itu kan kewajiban suami Mbak Meida, kenapa kita harus minta duluan! Gak peka banget sih”

Daripada ibu tidak diberi nafkah sama sekali, hayo bagaimana?

Lebih baik, ibu merendah sedikit tidak masalah. Yang penting kan disini dapat nafkah, iya kan?

Kemudian, jika suami sudah memberi berikan ucapan terimakasih. Berikan sanjungan, “mashaallah luar biasa suamiku sungguh dermawan sama istri dan anak-anak!”

Meskipun saat ibu meminta nafkah, suami menggerutu, “kemarin baru minta, sekarang sudah minta lagi! Jangan boros-boros”

Ibu jangan sakit hati! Tetap terima nafkahnya, berikan senyuman dan ucapan terimakasih. Inshallah dengan respon ibu yang manis seperti ini, lambat laun suami akan sadar dengan kewajibannya memberi nafkah pada ibu.

Loading

PASTI DITURUTI! Ini 5 Rahasia Meminta Bantuan pada Suami

Apakah ibu sering meminta bantuan pada suami, tapi jarang sekali dituruti bahkan suami lupa mengerjakannya?

Jika iya, silakan simak penjelasan saya sampai akhir. Karena sepanjang penjelasan ini saya akan memaparkan 5 rahasia yang inshallah tokcer untuk mendorong suami melakukan apa yang ibu inginkan.

Sebelum saya lanjutkan, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 08586 7777 797 atau klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Mengikuti Bimbingan Spiritual Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu pesan dari ibu

Pertama, Memilih Waktu yang Tepat

Jangan meminta suami melakukan sesuatu ketika suami “memang sudah merencanakan hal itu.”

Contoh, suami biasa buang sampah pukul 9 pagi (sudah direncanakan suami) kemudian pukul 8 pagi ibu minta tolong suami membuang sampah.

Ini membuat suami jengkel karena disuruh-suruh, dianggap tidak sadar terhadap kewajibannya dan merasa tidak dipercaya istri.

Ibu juga perlu perhatikan kondisi fisik dan mental suami. Apakah saat itu mood nya sedang baik atau suami sedang capek?

Kedua, Tidak Menuntut Suami

Meminta berbeda dengan menuntut!

Menuntut berarti mendesak suami menyegerakan permintaan ibu tanpa melihat situasi dan kondisi yang sedang dia jalani.

Ketiga, Gunakan Kalimat Singkat dan Tak Bertele-tele

Istri memiliki tabiat suka bicara, suami memiliki tabiat tak suka mendengarkan. Maka, hindari menyebutkan semua alasan kenapa suami harus melakukan sesuatu.

Ketika ibu terus berbicara, menyebutkan alasan kenapa suami harus melakukan ini dan itu, maka ini membuat suami jengkel.

Suami akan berpikir, “saya ini bukan anak kecil yang harus ditunjukkan caranya begini dan begitu”

Saya tahu perasaan ibu, memang ibu ingin menjelaskan secara detil agar suami paham dan bersegera melakukan permintaan ibu. Tapi, ini bukan cara yang tepat.

Sebutkan satu saja alasan kenapa suami harus melakukan itu dan ijinkan suami menjalankan instruksi ibu dengan caranya sendiri. Tidak perlu ibu dikte.

Keempat, Ungkapkan Permintaan Secara Langsung

Permintaan tak langsung berarti tidak menyuarakan apa yang sesungguhnya ibu inginkan. Contohnya, menyindir.

Permintaan langsung berarti ibu menjelaskan secara gamblang apa yang ibu butuhkan dari suami.

Contoh permintaan tak langsung, “sudah waktunya anak-anak pulang sekolah tapi aku tak bisa menjemputnya.”

Contoh permintaan langsung, “tolong jemput anak-anak sekarang ya.”

Nah, dari kedua contoh ini ibu sudah paham ya apa itu permintaan langsung dan tak langsung. Permintaan langsung membuat suami lebih mudah memahami maksud ibu.

Kelima, Memilih Kata-kata yang Tepat

“Apakah kamu bisa membuang sampah itu?”

Terkesan tak ada yang salah dengan kalimat ini tapi jika diajukan pada suami dengan naluri egonya yang tinggi, frasa ‘apakah kamu bisa’ berarti meragukan kemampuan suami.

Pilihlah kata yang sopan dan to the point.

Baiklah, itu dia 5 rahasia meminta pada suami agar dituruti. Ternyata sederhana ya, kita hanya perlu berpikir sebagaimana cara suami berpikir dan mengikuti tabiat kesehariannya seperti apa.

Loading

Copyright © 2026 Mbak Meida
WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp