Bukan uang! Bukan pamer status sosial yang saat ini dijadikan senjata suami bunda untuk menggaet wanita. Kalau jaman dulu mungkin iya bund.
Pria hidung belang yang sudah beristri, menggaet wanita dengan cara pamer uang. Tapi, pola perselingkuhan jaman sekarang, punya uang dan status sosial saja gak cukup.
Dan inilah pola perselingkuhan tren 2026, suami genit jual cerita sedih drama rumah tangganya untuk dapatkan simpati wanita. Aku akan jelaskan detail, bagaimana cara suami pdkt emosi, mengunci simpati wanita lain pakai uang dan status hingga terjadilah perselingkuhan dan perzinahan.
Jika bunda juga alami masalah ini, suaminya genit, suka caper ke wanita lain dengan cara menjual drama rumah tangga, saksikan konten ini sampai akhir, karena aku akan bagikan cara lahir batin untuk mengunci batin suami agar tidak haus validasi.
Nah, sebelumnya bun! Seperti biasa, silakan catat dulu kontak konsultasiku di +62 877-7396-4009.
Bunda bisa ceritakan masalah rumah tangganya kepadaku, termasuk jika suaminya suka caper dan jualan drama rumah tangga. Aku akan kasih solusi, treatment dan jika diperlukan kubantu buka aura bunda sesuai dengan kondisi yang bunda alami saat ini.
Selama ini mungkin bunda mengira, perselingkuhan suami selalu dimulai dari pamer uang, pamer kekuasaan, atau pamer gaya hidup. Materi memang membantu, tapi sifatnya di jaman sekarang untuk mengunci, bukan untuk mendapatkan simpati di awal.
Kalau di awal langsung pamer uang dan status sosial, wanita-wanita mudah incaran suami bunda akan menganggap, suami bunda norak. Itulah kenapa pola perselingkuhan suami hidung belang berubah.
Di lapangan, aku melihat pola baru perselingkuhan yang jauh lebih licik. Lebih rapi. Lebih sulit dideteksi. Dan sering membuat istri terlambat sadar.
Perselingkuhan ini tidak dimulai dari nafsu, tidak dari uang, tapi dari cerita sedih rumah tangga yang sengaja dijual
untuk mendapatkan simpati wanita yang lebih muda. Dan ini… akan semakin sering terjadi sepanjang setahun ke depan.
Beberapa waktu lalu, seorang klien datang dengan wajah bingung dan hancur. Bukan karena menemukan bukti transfer besar. Bukan karena suaminya bawa wanita dalam mobil mewahnya. Bukan karena suami beliau membiayai liburan mewah si wanita.
Tapi karena satu kalimat yang diucapkan selingkuhan suaminya,”suamimu bilang, rumah tangga kalian di ujung tanduk dan sebentar lagi kalian bercerai.”
Bahkan disitu, si wanita, selingkuhan suami klien juga menunjukkan bukti chat mesra dimana klienku, dijelek-jelekkan suaminya. Semua aibnya diumbar, dibilang kurang perhatian, cerewet, suka menuntut dsb.
Klienku terdiam. Karena faktanya, rumah tangga mereka baik-baik saja, tidak ada konflik besar, masih tinggal serumah, masih makan bersama, masih menjalani rutinitas seperti biasa.
“Aku dan suami sangat romantis mbak”
“Aneh aja suami bilang seperti itu bahkan ngejelekin aku”
Ungkap klien.
Di luar rumah, suaminya menceritakan versi yang sangat berbeda. Ke wanita lain, suaminya berkata,
“Aku gak bahagia di rumah.”
“Istriku dingin.”
“Aku bertahan cuma demi anak.”
“Kami sudah gak satu frekuensi.”
Padahal, istrinya tidak pernah merasa seperti itu. Di titik ini, bunda perlu memahami satu hal krusial, suami menjual cerita sedih, drama rumah tangganya, masalahnya dengan bunda, penderitaan yang direkayasa untuk menarik simpati bunda.
Dulu, pria berselingkuh dengan cara menunjukkan status, memamerkan uang, memberi fasilitas. Tapi sekarang, pola itu mulai kehilangan daya tarik. Wanita milenial dan Gen Z, bisa cari uang sendiri, tidak mudah terpesona status, tapi sangat sensitif terhadap koneksi emosional,
Dalam Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey, disebutkan bahwa generasi ini sangat menghargai emotional validation, ingin merasa didengar dan dipahami, mencari hubungan yang “bermakna”, bukan sekadar materi.
Artinya apa? Pria yang ingin cepat dekat tidak lagi menjual kekayaan lebih dulu, tapi menjual luka. Bukan karena jujur bun, karena ceritanya sudah direkayasa. Tapi karena itu jalan tercepat membuka empati.
Sekarang kita bongkar polanya pelan-pelan.
Langkah pertama, pria membuka sisi lemahnya dengan sengaja. Kalimat yang sering muncul bun..
“Aku gak dihargai.”
“Aku capek jadi suami yang selalu salah di mata istri.”
“Di rumah aku cuma dianggap mesin uang.”
“Aku kesepian meski punya keluarga.”
Perhatikan bun, di sini suami genit memposisikan diri sebagai korban. Saat pria tampil sebagai korban, wanita secara alami akan menghibur, memberi perhatian, memvalidasi perasaannya.
Wanita yang bersimpati tadi, dalam alam bawah sadarnya, dia merasa,“aku beda dari istrinya… aku mengerti dia.”
Padahal… yang sedang terjadi adalah suami curhat pura-pura untuk dapatkan simpati. Dan, di titik ini dia telah berhasil menyabotase perasaan si wanita yang dijadikan target selingkuhannya.
Setelah simpati terbentuk, kedekatan mulai naik level dimana chat makin intens, waktu curhat makin panjang, rahasia rumah tangga dibuka lebar, di sinilah batas mulai kabur.
Wanita merasa, “aku yang paling memahami dia.”
Pria merasa, “yes! aku berhasil bikin dia takluk dan bersimpati.”
Baru setelah ikatan emosional kuat, uang mulai masuk pelan-pelan. Kalimatnya berubah jadi..
“Kamu baik banget sih udah mau dengerin aku.”
“Ini ada uang jajan, jangan nolak ya.”
Atau pria hidung belang akan mulai kasih hadiah berupa barang-barang branded. Jadi urutannya dibalik total. Bukan uang dulu. Tapi emosi dulu yang dikunci.
Dalam sudut pandang spiritual, cerita sedih yang diulang bukan sekadar komunikasi. Interaksi adalah proses pertukaran energi. Suami mempengaruhi wanita lain, wanita lain pun akan mempengaruhi suami.
Dan ngerinya bun, pola perselingkuhan model ini tidak disadari suami. Karena gak kelihatan suaminya transfer uang gede-gedean, keluar jalan-jalan sama wanita lain.
Biasanya pola perselingkuhan ini dilakukan di lingkungan kerjanya, lingkungan komunitas atau terdekatnya. Lalu tiba-tiba ikatan emosional suami dengan wanita lain sudah terbentuk.
Lebih sulitnya lagi memutuskan hubungan ini adalah karena banyak istri salah langkah. Respon kita seringkali marah, menekan atau mengultimatum suami untuk jaga batasan. Tapi percuma!
Karena yang dibutuhkan adalah menenangkan dan mengunci batin suami. Dalam beberapa kasus, aku membimbing klien menggunakan Gelang Harmoni Pengunci Batin.
Dipakai oleh istri, diusap satu kali, dibacakan doa pengunci batin. Nah, manfaat energi pengunci batin ini untuk menenangkan empati suami, menguatkan ikatan rumah tangga, membuat batin suami kembali merasa cukup hanya dengan adanya istri.
Jadi, Gelang Harmoni Pengunci Batin ini ketika dikenakan istri, sembari kita melakukan langkah lahir batin yang sudah kutulis dalam panduan bun, termasuk salah satunya melakukan meditasi aura rutin, maka aura daya tarik kita perlahan terpancar.
Saat aura terpancar, mengeluarkan hawa hangat yang bikin suami nyaman mendekat, maka suami akan lebih fokus dan terbuka sama kita.
Jika itu sudah terjadi, aku bimbing istri untuk rutin membisikkan apresiasi ke suami seperti ..
“Makasih ya mas… sudah jadi suami yang bertanggung jawab. Aku merasa aman sama kamu. Gak bisa bayangin hidupku tanpa kamu.”
Kalimat ini menjadi jangkar batin yang menarik suami kembali ke rumah. Lalu kita sentuh kulit suami sesering mungkin, usahakan Gelang Harmoni Pengunci Batin terkena kulit suami, sehingga batinnya pelan-pelan terkunci hanya untuk kita. Tidak bocor, tidak mencari validasi atau pengakuan atau perhatian dari wanita lain.
Bunda… perselingkuhan 2026 kini dimulai suami dengan cara menjual drama rumah tangga. Nah jika bunda melihat, suami sering curhat ke wanita lain, membuka aib rumah tangga ke luar, merasa jadi korban yang tidak dipahami istri sendiri, jangan anggap itu sepele.
Ini bukan untuk menakuti, tapi untuk membuka mata. Karena semakin cepat bunda sadar polanya, semakin besar peluang rumah tangga diselamatkan. Kalau bunda ingin dibimbing dengan tenang dan tepat melalui Gelang Harmoni Pengunci Batin seperti yang sudah dijalankan klien-klienku, bisa hubungi kontak konsultasiku di nomor +62 877-7396-4009. Atau klik link di bawah ini untuk langsung tertuju ke chat WhatsApp otomatis adminku.
>> Saya Siap Ikhtiar Dapat Bimbingan Mbak Meida <<
![]()
Konsultasi Via WhatsApp