Lakukan Ini Setelah Bertengkar agar Suami Tak Minggat ke Pelakor

Yang namanya hubungan suami dan istri, kalau tidak ada pertengkaran itu tidak seru buk! Apakah ibu setuju dengan saya?

Karena bumbu-bumbu berupa pertengkaran, rasa cemburu, amarah, kecewa, sedih, sakit hati inilah yang membuat pasangan semakin dewasa dan bijaksana dalam membuat keputusan.

Bonusnya, membuat hubungan kalian makin menguat. Jadi, kalau ada pasangan bercita-cita ingin rumah tangganya adem ayem selamanya, itu menurut saya kurang tepat dan tidak akan pernah terjadi.

Kalaupun ada rumah tangga adem ayem selamanya, tidak ada konflik sama sekali, artinya ada salah satu diantara mereka yang memendam uneg-uneg dan tidak mau membagikan apapun ke pasangannya.

Sakit hati, diam. Kecewa dan jengkel sama pasangan disimpan sendiri. Lama-lama sakit stroke orang ini. Jadi bu, kalau sesekali ibu berdebat dengan suami, kecewa dengan keputusan atau sikap suami, itu hal wajar. Dan syukuri buk!

Masalah itu mendewasakan, menjadikan kita lebih bijaksana dan menguatkan ikatan emosional ibu dengan suami.

Ingat buk, menggabungkan dua kepala dengan isi yang berbeda itu tidak mudah. Menyatukan dua orang dengan prinsip yang berbeda karena perbedaan tempat tumbuh dan berkembang sulit.

Akan selalu ada saja hal yang tidak sesuai di mata ibu mengenai keputusan suami. Akan selalu ada hal yang tidak tepat dalam pandangan suami mengenai sikap ibu.

Dan, jika terjadi konflik lakukanlah 4 hal sederhana ini sehingga konflik yang terjadi antara kalian bisa membuat ibu dan suami makin kuat ikatan emosionalnya.

Sebelum saya lanjutkan, saya mau minta ibu mencatat nomor konsultasi saya lebih dulu yakni di nomor 08111 26 4401. Ibu boleh menghubungi saya melalui chat WhatsApp maupun telepon pada jam kerja kami yakni Senin sampai dengan Sabtu.

Melalui nomor konsultasi tersebut, ibu bisa menjelaskan detil masalah rumah tangganya seperti apa. Dan, bimbingan rumah tangga di tempat saya bersifat psiko spiritual. Saya menggabungkan ilmu psikologi dengan kekuatan spiritual.

Jadi, saya tidak sekedar mendengarkan curhat ibu seperti saat ibu curhat pada teman atau keluarganya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membantu membersihkan, menetralkan dan menguatkan aura daya tarik ibu.

Medan energi di sekeliling tubuh ibu atau saya menyebutnya sebagai aura, ketika sudah bersih dan bermuatan energi positif, maka aura ini akan memiliki daya yang kuat untuk menarik beragam hal baik dalam diri ibu.

Dan, hal baik yang ingin ibu tarik ke dalam hidup ibu ini bisa disetting atau saya menyebutnya sebagai hajat.

Misalnya, ibu ingin lebih mudah meluluhkan hati suami, mengunci fokus suami, membangkitkan syahwat suami hingga menarik orang-orang serta situasi yang bisa membantu mempercepat terkabulnya hajat ibu.

Setelah aura diperbaiki, saya juga akan membantu memberikan bimbingan lahiriah seperti apa yang perlu ibu lakukan, keputusan apa yang baik untuk ibu ambil, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B dan C atau ikhtiar lahir lain yang bisa ibu lakukan.

Inshallah ikhtiar kita akan lebih optimal buk, karena ada ikhtiar lahir berdasarkan realitas dan dilengkapi doa serta energi buka aura.

Nah, bagi ibu yang saat ini ingin segera menyelesaikan masalah rumah tangganya, bingung membuat keputusan, sudah hampir putus asa karena masalah yang sama terus menerus terjadi, maka jangan segan menghubungi saya ya buk.

>> Saya Siap Ikuti Bimbingan Spiritual Rumah Tangga <<

Sekarang, kita lanjut ya bu!

Hal pertama yang perlu ibu lakukan pasca bertengkar dengan suami adalah tunjukkan rasa sesal terhadap kesalahan yang sudah ibu buat

Jika memang pertengkaran itu terjadi karena salah ibu, jangan malu untuk menunjukkan rasa sesal tersebut. Baik melalui perkataan maupun raut muka ibu di hadapan suami.

Kedua, ibu perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah ibu perbuat

Tanggung jawab disini berarti ibu tidak menyalahkan keadaan/kondisi, tidak menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan suami ibu.

Manusia itu kan tempatnya salah, wajar ibu berbuat salah, tapi bukan berarti karena peribahasa tersebut ibu menjadi leluasa untuk berbuat salah. Ibu tetap harus ambil kesempatan untuk menebus kesalahan.

Yang ketiga, minta maaf ke suami secara langsung. Jangan lewat telepon atau chat.

Harus bertemu, ngobrol langsung dan berikan penjelasan. Kalau dia sudah terima permintaan maaf ibu, lanjutkan dengan menebus kesalahan.

Misalnya, ibu ketahuan bonceng rekan kerja pria karena telat dijemput suami, meskipun itu hanya rekan kerja, tapi ternyata itu menyakiti hati suami dan dianggap ibu telah melewati batasan. Maka tebuslah dengan perlakua yang menurut ibu harganya itu 3 kali lipat lebih besar dibandingkan kesalahan itu.

Yang keempat, jangan menjauh.

Seringkali suami istri kalau bertengkar itu langsung saling menjauh. Tidak mau dekat-dekat bahkan ada suami yang minggat dari rumah.

Nah ini sikap kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. Jika suami marah pada ibu, sebaiknya ibu tidak menjauh. Tetap dekati suami, meskipun dia tidak mau menyentuh atau mengobrol dengan ibu.

Karena kalau dijauhi justru konflik itu akan makin melebar.

Lalu bagaimana Mbak Meida, kalau konflik ini sumber kesalahan utama ada pada suami? Ya minta suaminya untuk bertanggung jawab atas kesalahaan yang sudah diperbuat buk.

Seperti itu ya buk, semoga apa yang saya bagikan ini bermanfaat untuk ibu dalam mengatasi konfliknya dengan suami.

Loading

Perhatikan! Ini 3 Tanda Suami Gagal Jadi Kepala Keluarga

3 tanda yang akan saya sebutkan disini bisa ibu jadikan referensi untuk memperbaiki diri dan mengajak suami berintrospeksi.

Tapi, bukan berarti 3 tanda ini bersifat baku yang harus ibu patuhi persis 100%. 3 tanda ini juga bukan tanda yang mutlak, yang apabila suami ibu tergolong dalam 3 tanda ini berarti dia suami yang gagal.

Bukan seperti itu ya?

Bahwa kegagalan dan keberhasilan itu pun adalah sebuah proses. Gagal hari ini bukan berarti tidak berhasil di masa depan.

Sangat mungkin apabila hari ini ibu merasakan tanda-tanda kegagalan suami menjadi kepala keluarga, esok hari setelah ibu dan suami saling introspeksi dan mengingatkan, suami bisa meraih keberhasilan menjadi kepala keluarga.

Nah, tanda pertama yang mengindikasikan suami gagal menjadi kepala keluarga adalah menomorsatukan emosi.

Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit melampiaskan kemarahan pada istri, anak-anak maupun orang terdekatnya di keluarga. Padahal emosinya itu tersulut karena pekerjaan.

Padahal bukan istri dan anak-anak yang berbuat salah, tapi emosi kemarahannya selalu dilampiaskan pada keluarga. Ini adalah tanda paling jelas bahwa suami ibu gagal menjadi kepala keluarga.

Karena kepala keluarga harus memiliki sikap bijaksana. Tahu bagaimana caranya mengelola kemarahan, bagaimana bertindak ketika menyelesaikan masalah, bagaimana melewati masa-masa sulit dalam berumah tangga.

Jika suami ibu masih emosian, artinya dia perlu lebih banyak belajar untuk menjadi kepala keluarga.

Tanda kedua yang mengindikasikan suami gagal jadi kepala rumah tangga adalah tidak mau mendengarkan dan memahami

Suami ibu cenderung menolak pendapat ibu, bahkan tidak pernah mendengarkan saran, masukan ataupun pandangan ibu terhadap suatu hal.

Dia merasa angkuh dengan posisinya sebagai kepala keluarga, menganggap dirinya paling berhak membuat keputusan, menyatakan diri bahwa keputusan dan pendapat nyalah yang paling benar.

Ini disebut dengan suami super dominan dan egois. Tentu saja, ini tanda paling jelas suami gagal jadi kepala keluarga. Dan, kepala keluarga wajib memiliki kemampuan mendengarkan pendapat anggota keluarga lainnya.

Sehingga tiap keputusan yang dibuat sang kepala keluarga, hasilnya bisa menguntungkan bagi istri maupun anak-anaknya. Bukan membuat dirinya sendiri puas, tapi di sisi lain justru menyakit hati istri.

Tanda ketiga suami gagal jadi kepala keluarga yang baik adalah tidak memprioritaskan keluarga inti

Saya pernah menangani kasus rumah tangga yang mana sang istri telah meninggalkan rumah dan hampir menceraikan suami. Penyebabnya karena sang suami selalu memprioritaskan orang tua dan saudara kandungnya.

“Lho bukannya suami memang masih punya tanggung jawab terhadap orang tuanya ya Mbak Meida?”

Benar sekali!

Tapi prioritas utamanya tetap ada pada anak-anak dan istri lebih dulu ya. Nah, kasus klien saya ini cukup unik. Karena sang istri berkarir, banyak kebutuhan rumah tangga dipenuhi klien saya.

Melihat hal ini, sang suami bukannya termotivasi untuk bekerja lebih keras dibanding sang istri, justru yang terjadi suami enak-enakan. Semua gajinya digunakan untuk renovasi rumah orang tua, kredit mobil untuk orang tuanya dan membantu sang adik buka usaha.

Istrinya sendiri justru diminta menafkahi keluarga termasuk dirinya sendiri.

Jadi, suami dan istri perlu berhati-hati! Bahwa setelah menikah, prioritas utama kalian adalah keluarga. Jika ada masalah, curhat pertama kali sama pasangan. Minta tolong pada pasangan. Kalau lagi dapat rejeki, bahagiakan dulu pasangannya.

Baru setelah itu, boleh kasih ke orang tua dsb.

Nah, dari ketiga tanda ini apakah muncul dalam diri suami ibu? Jika iya, yuk share video ini ke suami ibu. Siapa tahu suami ibu jadi tergugah hatinya untuk belajar menjadi lebih baik dan agar tidak mendapat cap gagal menjadi kepala keluarga.

Loading

3 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Konflik Suami Istri Tak Kunjung Usai!

“Saya dan suami itu sering banget bertengkar”

“Tiap ada hal yang tidak sejalan, kita bisa bertengkar hebat dan gak selesai-selesai”

Bagi saya pribadi, bertengkar adalah hal wajar dalam sebuah hubungan. Hubungan yang sehat, justru ada konfliknya. Kalau di luar sana ada pasangan bilang, “kita adem ayem saja tidak pernah ada masalah.”

Ini bullshit!

Salah satu diantara mereka pasti ada yang memendam uneg-uneg dan terus mengalah. Seolah tak ada masalah sehingga terlihat baik-baik saja.

Tapi, kalau konfliknya hampir tiap hari dan tidak kunjung selesai maka itu ada beberapa hal yang menjadi penyebab. Nah, pada kesempatan kali ini saya akan share beberapa penyebab kenapa pasangan suami istri bisa terus berkonflik.

Sebelumnya saya ingin ibu mencatat dulu nomor konsultasi saya di +628111 26 4401. Melalui nomor konsultasi tersebut, ibu bisa menghubungi dengan cara chat WhatsApp maupun telepon kemudian menjelaskan detil masalah rumah tangganya seperti apa.

Bimbingan rumah tangga di tempat saya bersifat psiko spiritual. Saya menggabungkan ilmu psikologi dengan kekuatan spiritual.

Jadi, saya tidak sekedar mendengarkan curhat ibu seperti saat ibu curhat pada teman atau keluarganya.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B dan C, keputusan yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan berdasarkan realitas.

Kemudian saya lengkapi bimbingan dengan ikhtiar spiritual menggunakan energi doa dan buka aura.

Inshallah ikhtiar kita lebih optimal. Karena ada ikhtiar lahir berdasarkan realitas dan dilengkapi doa serta energi buka aura.

Nah, bagi ibu yang saat ini ingin segera menyelesaikan masalah rumah tangganya, jangan segan menghubungi saya.

>> Saya Siap Ikhtiar Melalui Mbak Meida <<

Jadi, penyebab pertama konflik suami istri tak kunjung selesai adalah merasa diri paling benar.

Tidak ada yang mau mengalah. Kalau suaminya salah, dia malah menyalahkan istri dan merasa dirinya benar. Kalau istrinya salah, suami yang disalahkan dan tidak mau mengakui kesalahan.

Gitu terus sampai anaknya lima, kan susah. Rumah tangga tidak berjalan dengan harmonis karena masing-masing saling mengedepankan ego.

Kedua, saling menuntut. Tidak saling melengkapi dan mengisi.

Istri maunya suami selalu menuruti permintaannya. Harus mampu membelanjakan ini dan itu, tapi istri sendiri tidak mau mendukung dan mendoakan suami.

Suami mau istrinya selalu tampil cantik, rapi dan menarik tapi suami tidak pernah memberi modal ke istrinya. Kan itu, saling menuntut tapi tidak mengisi dan melengkapi.

Ketiga, tidak pernah berusaha memahami.

Tapi maunya dipahami terus. Maunya diperhatikan, dielus-elus, dipuji, tapi kita tidak pernah melakukan hal yang sama lebih dulu ke pasangan kita.

Jadi, pasangan seperti ini saling menunggu. Tidak mau memperbaiki diri lebih dulu. Akhirnya apa yang terjadi, tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka. Karena saling menunggu dan menuntut satu sama lain.

3 kebiasaan ini menurut saya sepele tapi menjadi SUMBER konflik yang tak pernah usai. Jadi, setelah memahami 3 hal ini saran saya silakan pelan-pelan diperbaiki kebiasaannya.

Jika sudah diperbaiki tapi hasilnya masih sama saja, saran saya ibu bisa menghubungi saya melalui nomor konsultasi yang tertera berikut ini. Saya akan bantu berikan solusi sesuai masalah dan kondisi rumah tangga ibu.

Loading

Tersiksa Batin! 11 Tahun Menikah Suami Belum Usai dengan Masa Lalu

Kali ini saya akan bercerita mengenai kasus klien saya yang mana suaminya memiliki unfinished business dengan orang tuanya.

Unfinished business adalah memori atau emosi yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu. Emosi atau pengalaman ini tidak diekspresikan karena terlalu menyakitkan, malas ngobrol atau dianggap sebagai angin lalu.

Unfinished business tidak boleh diremehkan. Seperti yang terjadi pada kasus klien saya, emosi atau pengalaman masa lalu yang tidak diekspresikan bahkan disimpan rapat ternyata bisa menjadi bom waktu di masa depan. Dan, ini mempengaruhi hubungan seseorang dengan pasangannya.

Pengaruhnya kalau positif sih tidak masalah ya, tapi bagaimana jika negatif? Silakan simak penjelasan saya sampai akhir dan catat juga nomor konsultasi saya di 08111 26 4401.

Jika ibu mengalami masalah rumah tangga apapun itu silakan jangan sungkan hubungi nomor tadi bisa melalui chat WhatsApp maupun telepon.

Konsultasi saya bersifat profesional, saya tidak hanya mendengarkan layaknya teman atau keluarga ibu yang sedang dicurhati. Saya mendengarkan secara seksama dan memberikan treatment serta evaluasi terhadap masalah yang ibu hadapi.

Jadi, mohon jangan ditunda untuk berkonsultasi meski masalah yang ibu hadapi terkesan sepele. Karena masalah yang sepele bisa menjadi bibit unfinished business seperti yang akan saya kisahkan disini.

Klien saya bercerita bahwa suaminya dulu memiliki keluarga yang tidak harmonis. Sang ayah selingkuh dan melakukan KDRT terhadap ibunya.

Ibunya ini seorang ibu rumah tangga, kesehariannya hanya bergantung pada ayahnya. Jadi, bisa dikatakan sang ibu tidak memiliki kuasa untuk membuat keputusan. Saat di KDRT dan diselingkuhi, sikap ibunya ya pasrah saja. Tidak ada pemberontakan sedikit pun.

Suami klien saya yang melihat kekerasan fisik dan emosional ini juga tidak berdaya karena masih kecil. Lalu, apa yang terjadi?

Anak ini tumbuh jadi anak pendiam, pemalu, penakut dan di saat yang sama memiliki kecemasan tinggi dan emosi yang sulit terkontrol.

Dia bahkan meniru beberapa sifat keras sang ayah yakni tidak bisa mendengarkan orang lain, bersikap seenaknya sendiri dan hobi membanting segala barang yang ada di dekatnya saat marah. Ini dibawa hingga dia dewasa bahkan setelah menikah dengan klien saya.

Lalu apa yang terjadi pada rumah tangga klien saya yang memiliki seorang suami dengan unfinished business? Suami klien saya memperlakukan klien saya hanya sebagai budak seks.

Dia tidak percaya cinta sejati, kasih sayang dan ketulusan itu benar-benar ada. Dia melihat ayahnya hanya menggunakan ibunya sebagai pelengkap status, sebagai sosok yang memberikan keturunan saja. Bukan sebagai pasangan hidup, rekan berbagi cerita suka dan duka.

Satu lagi yang terjadi pada rumah tangga klien saya, beliau juga alami KDRT persis seperti yang ayah mertuanya lakukan pada ibu mertuanya.

Padahal dulu sewaktu belum menikah, suaminya ini berjanji bahwa “saya sangat menghormati kamu sebagaimana saya menghormati ibu saya, saya tidak akan melukai kamu sebagaimana ayah saya melukai ibu saya, jika saya melanggar sumpah ini maka jangan segan tinggalkan saya.”

Tapi yang terjadi, suami klien saya justru melakukan kekerasan baik secara fisik maupun verbal.

Nah pelajaran yang bisa kita ambil dari kasus klien saya ini adalah selesaikan masalah dan trauma masa lalu sebelum memulai hubungan baru.

Sepele apapun emosi yang ibu rasakan, ungkapkan. Contoh, jika ibu jengkel pada suami karena hobi buang sampah sembarangan di rumah, suami suka meletakkan barang sesuka hatinya, pulang pergi seenaknya, tegurlah.

Ungkapkan kekesalan ibu agar tidak menumpuk hingga akhirnya menjadi unfinished business. Karena ini bisa jadi BOM WAKTU yang siap meledak kapanpun.

Ingat!

Emosi atau pengalaman yang terus disimpan, ditekan ke bawah dalam ruang batin maka ini akan membuat ruang batin kita penuh. Kalau sudah penuh, pasti meledak dan tumpah keluar.

Ini akibatnya akan lebih FATAL seperti perselingkuhan hingga perceraian tiba-tiba. Jadi, ayo selesaikan masalah-masalah emosi dan pengalaman yang belum selesai di masa lalu.

Loading

Mendadak Suami Minta Cerai? Bergegaslah Ambil 5 Langkah Ini

Saya ikut merasakan sakit yang ibu rasakan. Ketika suami tiba-tiba ingin bercerai, padahal disini ibu merasa tidak ada masalah yang berarti.

Atau ibu memang tahu ada masalah, tapi selama ini ibu sudah berusaha sekuat tenaga berikhtiar jangan sampai pisah. Tapi pada akhirnya suami memilih untuk berpisah. Jika sudah seperti ini, apa yang harus dilakukan istri?

Apakah kita pasrah saja karena suami memang sudah tekad bulatnya? Atau kita berusaha sekali lagi sampai titik darah penghabisan demi keutuhan rumah tangga?

Nah, saya ingin tahu pendapat ibu-ibu disini. Jika tiba-tiba suami minta cerai, apa yang ibu lakukan? Langsung diiyakan atau berikhtiar agar jangan sampai pisah? Ayo tulis di kolom kometar ya.

————- baca komentar follower ——————-

Baik, bagi saya tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban benar sesuai dengan prinsip hidup ibu masing-masing, sesuai latar belakang dan kondisi rumah tangganya serta sesuai pengalamannya berumah tangga selama ini.

Dan, pada kesempatan live streaming kali ini saya juga akan memberikan jawaban berdasarkan 2 sudut pandang. Sudut pandang pertama saat suami minta cerai dan ibu mengiyakan. Sudut pandang kedua saat suami minta cerai dan ibu ingin mempertahankan. Langkah yang harus diambil tentu berbeda.

Suami yang tiba-tiba minta cerai, saya yakin dia sudah memendam masalah atau keinginannya sejak lama. Tidak ada orang di dunia ini baik suami maupun istri yang tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba berkata “ayo kita cerai.”

Itu agak mustahil!

Kemungkinan besar suami sudah memendam masalah yang tidak diungkapkan secara jujur pada ibu. Dipendam terus, lama-lama kan sampah batinnya menumpuk ya. Akhirnya meledak dan diluapkan dalam bentuk menuntut cerai.

Ada juga kasus dimana klien saya tiba-tiba digugat cerai oleh suaminya. Selama ini baik-baik saja, mereka romantis, mesra dan kompak. Tapi ternyata selama ini sang suami ada simpanan.

Seorang wanita yang telah dipacari lama dan ingin dinikahi tapi tak ingin dimadu. Maunya jadi yang pertama dan satu-satunya. Akhirnya sang suami langsung memberikan ultimatum pada istrinya.

“Kamu akan saya ceraikan akhir tahun ini! Jadi sebaiknya kamu bersiap-siap.”

Kemudian selama beberapa bulan ini klien saya berikhtiar bersama saya, mengharap belas kasih Tuhan semoga hati suaminya bisa luluh sehingga mencabut ucapannya tersebut.

Nah, sekarang saya bahas dulu sudut pandang yang pertama. Yakni suami minta cerai dan istri mengiyakan. Lalu, langkah apa yang harus dilakukan istri?

Ya tidak perlu mengambil langkah apa-apa. Langsung saja diikuti permainan suami. Kan dia yang menceraikan, jadi biarkan suami yang mengurus berkas administrasi dsb. Jadi, kalau istri mengiyakan ya tugas kita simple seperti ini.

Sudut pandang kedua, ketika suami minta cerai kemudian istri ingin mempertahankan. Nah, langkah ini cukup panjang. Karena di satu sisi suami ingin berpisah, di sisi lain istri ingin bertahan. Dua kepala dengan dua perbedaan keinginan. Banyak hal yang harus diikhtiari.

Langkah Pertama, Minta Maaf pada Suami

Apapun yang terjadi, saat suami tiba-tiba berkata ingin cerai langsung ucapkan permintaan maaf. Meski selama ini ibu sudah sering minta maaf, sudah sering mengalah, tidak masalah.

Ucapkan saja permintaan maaf seperti ini, “maaf ya kalau selama ini aku belum mampu menjadi istri yang sesuai harapanmu.”

Sudah cukup!

Katakan itu saja dan tidak perlu ditanggapi dulu mengenai ucapan suami yang minta cerai.

Langkah Kedua, Beri Waktu untuk Suami

Jelaskan pada suami, “mungkin saat ini kamu sedang capek, terbawa emosi, lagi banyak pikiran dan pekerjaan. Aku akan berikan waktu istirahat untukmu.”

Jika sudah berkata seperti ini, maka suaminya jangan diganggu dulu. Biarkan kepalanya dingin, biarkan suasana kembali tenang dulu, berikan waktu baik untuk suami maupun diri ibu sendiri.

Siapa tahu setelah emosi suami terkontrol, dia yang kemudian minta maaf dan tidak jadi menceraikan ibu.

Karena bercerai itu bukan keputusan yang bisa diambil sepihak dan sekali diucapkan bisa langsung terlaksana. Perlu dipikirkan secara matang berdua, dalam kondisi pikiran yang tenang dan dingin.

Langkah Ketiga, Jangan Mencoba Memperbaiki Cara Berpikir Suami

Saya yakin, saat suami berkata cerai, ibu ingin membuatnya segalanya menjadi lebih baik. Ibu ingin mengubah pendirian suami. Ibu ingin mengubah suasana tegang menjadi kalem dan tenang seperti semula.

Tapi ingat! Tidak semudah itu apabila suami sudah memikirkan perceraian cukup lama. Maka jangan terburu-buru, memaksa, menuntut, mendesak dan mengubah cara berpikir suami.

Ibu boleh cemas, takut dan sedih. Itu perasaan wajar yang harus ibu terima. Tapi jangan turuti emosi negatif tersebut demi menyelamatkan rumah tangga ibu.

Jelaskan saja pada suami bahwa ibu memberikan waktu pada suami untuk berpikir ulang. Dan selama suami berpikir ulang, ibu ambil kesempatan untuk introspeksi dan memperbaiki diri.

Langkah Keempat, Jangan Sepenuhnya Menyalahkan Suami

Saat mendadak suami minta cerai, ibu boleh sedih. Tapi saran saya, hindari menyalahkan suami sepenuhnya.

“Biasanya wanita kan menyalahkan orang lain ya! Ini salah kamu, ini gara-gara kamu selingkuh dengan wanita itu jadinya seperti ini.” dsb

Saya tahu, ibu pasti marah dan frustasi sehingga sulit berpikir jernih. Tapi, cobalah secara pelan-pelan untuk memahami kondisi suami ibu.

Apakah dia sedang mengalami kesulitan di tempat kerja, masalah keuangan, kesehatan dsb. Ini perlu dicari tahu ibu. Siapa tahu keinginan suami berpisah bukan karena kesalahan ibu, tapi karena memang ada masalah pribadi di diri suami ibu.

Maka, hindari menyalahkan suami sepenuhnya. Ibu juga perlu mencari tahu masalah pribadi suami yang menyebabkan emosinya jadi labil.

Langkah Kelima, Tetap Jaga Kewarasan Mental Ibu

Pernikahan itu selalu dihiasi dengan berbagai masalah. Masalah A kelar, datang masalah B. Masalah C selesai, datang masalah C, D, E dst.

Itu sudah hukum alam!

Maka ibu sebagai istri yang sedang berikhtiar menjaga keutuhan rumah tangga perlu menyadari hal ini. Sehingga ibu masih mampu menjaga kewarasan mentalnya.

Jika ibu tidak memahami cara main Tuhan terkait tantangan dalam pernikahan, ibu bisa stres dan tertekan. Ibu akan berpikir, “kok saya ada masalah terus ya? Kapan istirahatnya?”

Bener, gak?

Jadi, apapun tantangan yang kita terima terkait masalah pernikahan ini, termasuk di dalamnya adalah suami tiba-tiba menggugat cerai, disyukuri.

Coba belajar untuk memandang masalah dari sudut pandang yang lebih luas seperti “karena tiba-tiba digugat, aku jadi lebih mandiri karena takut benar-benar diceraikan”, “karena tiba-tiba digugat, aku jadi lebih berani mengambil sikap”, “karena tiba-tiba digugat, aku jadi lebih banyak bermuhasabah.” dsb

Seperti itu ibu-ibu ya!

Saya rasa penjelasan saya sudah sangat detil untuk 5 langkah yang perlu ibu ambil. Jika 5 langkah ini sudah diterapkan tapi suami masih gigih ingin berpisah dari ibu, jangan sungkan hubungi saya melalui nomor konsultasi di 08111 26 4401.

>> Saya Siap Ikhtiar Melalui Bimbingan Mbak Meida <<

Jelaskan secara detil kondisi rumah tangga ibu, apa yang menyebabkan suami ingin menggugat cerai dsb. Saya akan bantu berikan solusi dan treatment untuk mengatasi masalah rumah tangga yang ibu alami.

Loading

Jangan Mau Terus Mengalah! Begini Cara Apik Hadapi Konflik

Konflik dalam berumah tangga itu penting! Dan, hampir tidak ada satu pun rumah tangga di dunia ini yang tidak dihiasi dengan konflik.

Jadi, jika terjadi konflik antara ibu dan suami, jangan dihindari. Jangan bingung atau marah, “kenapa harus bertengkar sih?”

Justru inilah momen untuk mendewasakan diri, momen untuk lebih memahami pasangan lagi. Momen untuk meningkatkan kekompakan dengan pasangan. Momen untuk menjadikan rumah tangga ibu dan suami lebih baik, lebih adil dan lebih bahagia.

Kenapa sih pasangan itu bisa berkonflik?

Konflik terjadi ketika keinginan ibu tidak sesuai dengan keinginan suami. Ibu inginnya A, tapi suami inginnya B.

Suami berharap ibu bersikap C, tapi ibu justru mengambil keputusan D. Disini terjadi perbedaan cara pandang dan cara sikap.

Di saat mood ibu dan suami sedang baik, kalian bisa dengan mudah bernegosiasi dan berkompromi kemudian membuat keputusan yang sama-sama menguntungkan.

Tapi saat mood ibu dan suami sedang tidak baik atau sebelumnya suami membuat keputusan tanpa ijin ibu lebih dulu, disini biasanya akan terjadi gesekan berupa konflik.

Ibu ngotot ingin suami mengubah sikapnya, suami pun ngotot ingin ibu mengikuti keputusannya.

“Kalau sudah seperti ini Mbak, biasanya saya yang selalu mengalah”

Kata ibu-ibu yang ada disini.

Ayo siapa disini yang hobi mengalah? Silakan ditulis di kolom komentar, seperti apa sih muka-mukanya wanita yang selalu mengalah itu? Apakah seperti sedang tertekan begitu?

Seperti judul yang telah saya pampang disini ya. “Jangan Mau Terus Mengalah.” Sebenarnya ada cara yang lebih baik daripada mengalah.

Jika mengalah, ibu cenderung bersikap menyerah. Dan suami akan mengambil keputusan sepihak yang kadang merugikan ibu sebagai istri.

Tak hanya berhenti disitu, jika terus menerus mengalah nanti akan membuat ibu jadi kalah-kalahan suami. Lain kali jika membuat keputusan, ibu tidak lagi diajak.

Maka saran saya, silakan ikuti beberapa hal berikut ini untuk mengatasi konflik dengan suami.

Pertama, Perbaiki Prinsip Ibu

Bahwa suami bukanlah musuh melainkan rekan hidup ibu. Maka, ketika ada konflik, jangan memaksakan diri agar menang atau mencari tahu siapa yang paling banyak salahnya.

Seperti pepatah bijak yang mengatakan bahwa menang jadi abu, kalah jadi arang. Jadi dalam rumah tangga, kalau ada konflik, jangan merasa harus jadi pemenang.

Dalam berkonflik, yang terpenting adalah mencapai kesepakatan agar keduanya sama-sama mendapatkan kebaikan.

Kedua, Mendengarkan Suami

Istri itu paling suka bicara.

Dalam keadaan sedih, dia ingin mengungkapkan kesedihannya. Dalam kondisi marah, dia ingin mengeluarkan uneg-unegnya.

Dalam keadaan bad mood, dia juga masih ingin ngomel mengeluarkan kata-kata. Begitu juga dalam berkonflik dengan suami, ibu selalu ingin nyerocos omong terus.

Saya tahu, ini adalah tabiat wanita. Tapi ketika berkonflik dengan suami, perbanyaklah untuk mendengar suami ibu.

Siapa tahu dengan cara mendengarkan, ibu bisa lebih memahami sudut pandang suami. Siapa tahu dengan mendengarkan, hati suami jadi luluh sehingga suami juga mau mendengarkan ibu.

Kita memberikan kesempatan bicara pada suami, inshallah suami nanti juga akan memberikan kesempatan pada ibu untuk bicara. Jadi ketika berkonflik, lebih banyak mendengarkan suami daripada bicara.

Ketiga, Istirahat Sejenak

Saat konflik, sebenarnya akan lebih baik jika suami dan istri langsung fokus menyelesaikan masalah tersebut sampai menemukan kesepakatan bersama.

Tapi, ada konflik-konflik tertentu yang jika diteruskan justru kondisi ibu dan suami makin memanas. Suami makin tinggi suaranya, ibu juga emosinya tak lagi bisa dikontrol.

Nah jika terjadi seperti ini, langsung kasih jeda. Istirahat sebentar, jangan dipaksa untuk berdiskusi atau bernegosiasi.

Tenangkan pikiran dulu, dinginkan kepala dulu sampai suasana panas mereda, baru lanjutkan untuk berdiskusi dan bernegosiasi.

Ayo siapa disini yang apabila terjadi konflik, tetap memaksakan diri untuk terus lanjut diskusi? Perlu diingat ya, hasil diskusi ini tidak akan baik bagi ibu dan suami jika diputuskan dalam keadaan emosi.

Seperti itu 3 tips sederhana dari saya. Meskipun sederhana, tapi jika diterapkan tiap kali ada konflik, inshallah ini bisa sangat membantu.

Loading

Tak Lagi Intim dengan Suami? Kobarkan Api Keintiman Pakai Ini

Intim tidak selalu bermakna hubungan badan, hubungan seksual atau hubungan suami istri. Intim disini lebih mengarah pada koneksi suami dan istri yang saling nyambung saat berkomunikasi, saling merasa nyaman berdekatan dan memahami kebutuhan satu sama lain.

“Dulu suami sering curhat masalah kantor Mbak, tapi sekarang tidak”

“Dulu suami suka godain, peluk atau pegang-pegang gak jelas, tapi sekarang tidak”

“Meski begitu, kita masih rajin berhubungan suami istri”

“Tapi saya merasa ada yang kurang, karena tidak ada lagi kehangatan seperti dulu”

Nah ini lho yang saya maksud dengan keintiman.

Suami dan istri bisa saja rajin berhubungan badan, tapi kehangatan seperti curhat, nyaman berdekatan, saling menggoda dan bercanda, tidak lagi ada.

Jika ini yang terjadi, berarti suami dan istri telah kehilangan keintiman. Dan, berdasarkan pengalaman saya mengatasi ratusan masalah rumah tangga, kehilangan keintiman seperti ini jauh lebih berbahaya dampaknya pada keharmonisan rumah tangga.

Contoh, istri sibuk mengurus anak dan rumah tangga sedangkan suami sibuk bekerja. Mereka berhubungan suami istri hanya sebagai bentuk formalitas. Di saat keintiman sudah tak lagi ada.

Lama-lama keseharian rumah tangga hanya akan menjadi rutinitas, istri punya dunianya sendiri, suami punya dunianya sendiri, di dalam rumah sikapnya dingin satu sama lain, berbicara hanya saat butuh atau saat ada urusan dengan anak dsb.

“Jika sudah terlanjur kehilangan keintiman, lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengobarkan kembali api keintiman Mbak?”

Perbanyak sentuhan!

Sentuhan memiliki kemampuan untuk menciptakan koneksi instan diantara suami istri. Sentuhan memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan baik secara emosional maupun fisik.

Dan ini bermanfaat bagi keduanya, yakni yang menyentuh dan disentuh. Sentuhan fisik disini bukan berarti foreplay atau menggoda untuk lanjut ke hubungan ranjang ya.

Melainkan sentuhan ringan di sela-sela aktivitas, seperti pelukan, memainkan tangan saat nonton TV, sarapan, memberikan pijatan saat suami lelah, menggenggam tangan saat jalan bareng dsb.

Sentuhan fisik ini mendatangkan rasa simpati, kenyamanan, keamanan. Bahkan ada penelitian yang mengatakan bahwa saat kita disentuh oleh orang yang kita sayangi, alam bawah sadar kita akan membawa kita kembali pada momen pertama kali kita lahir di dunia kemudian mendapatkan sentuhan pertama dari seorang ibu.

Jadi, muncul rasa nyaman dan aman yang luar biasa.

Untuk memperbanyak sentuhan ini, tidak ada waktu khusus. Boleh dilakukan kapan saja. Apalagi jika ibu melakukannya secara spontan, itu akan jauh lebih bagus efeknya pada perasaan suami.

Contohnya saat suami jalan di depan ibu, kemudian ibu menggoda suami sambil memegang tangannya dsb. Jadi, itulah tips praktis dari saya.

Setelah mempraktikkan ini, kemudian ibu ingin mendapatkan bimbingan lain agar lebih mantap silakan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan saya melalui nomor 08586 7777 797. Atau klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Berikhtiar Melalui Bimbingan Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu pesan dari ibu.

Loading

Udang Dibalik Batu! Ini 7 Alasan Suami Kembali Setelah Istri Move On

Sudah capek-capek move on, eh tiba-tiba suami tanpa rasa berdosa kembali lagi ke rumah. Ada yang mengalami hal seperti ini?

Saya kira banyak ya.. itulah kenapa saya angkat judul ini sebagai tema obrolan kita sore ini.

Mungkin disini ada yang sedang menghadapi ujian rumah tangga seperti tidak dinafkahi suami, mendapat kekerasan fisik dan verbal atau ada juga yang diselingkuhi.

Berbagai masalah itu membuat ibu marah, sedih, sakit hati, kecewa terhadap suami. Posisi ibu saat ini sebenarnya sudah pasrah. Ibu sudah ikhlas jika memang suami mau pergi. TERSERAH, begitu buk ya..

Ibu pun disini hatinya sudah tabah dengan segala sakit hati yang ditorehkan suami. Mau suami jungkir balik, kayang, koprol dan sebagainya, ibu sudah tidak peduli.

Yang terpenting, ibu sudah mampu mandiri dan anak-anak hidup berkecukupan. Karena disini ibu SUDAH MAMPU MOVE ON.

Dan, move on disini prosesnya tidak mudah ya. Ada sabar yang dipaksakan, ada tangisan, kekecewaan dan air mata yang tiada henti dsb.

Nah, setelah perjuangan move on luar biasa yang telah ibu lakukan tiba-tiba suami balik lagi ke rumah. Katanya, “mau tobat.”

Katanya, “mau memperbaiki rumah tangga.”

Katanya, “mau memulai dari awal lagi dengan ibu.”

Nah.. ibu disini dibuat bingung sama sikap suami. “Aduh, aku udah capek-capek move one tapi kamu balik seenaknya sendiri begitu.”

Dalam situasi seperti ini, biasanya banyak klien saya yang bertanya. “Mbak Meida, tolong diterawangin dong! Suamiku ini tulus atau tidak ya? Alasan suami minta balik lagi apa ya?”

Kalau masalah seperti ini menurut saya tidak perlu diterawang. Ditebak saja juga gampang! Aduh kok jadi sombong begini saya ya.. bercanda ibu ya.

Oke, sekarang kita lanjut saja!

Saya akan jelaskan pelan-pelan mengenai 7 alasan suami minta balikan setelah istri mulai move on.

Pertama, dia cemburu

Salah satu alasan utama mengapa pria kembali setelah beberapa bulan kemudian adalah kecemburuan.

Dulu mungkin ibu dianggap sebagai sosok yang tidak ada nilainya. Tapi setelah berbagai perjuangan ibu lakukan, ibu mulai bangkit!

Ibu mulai memperbaiki diri, cara bicaranya, cara berpikir, cara berpenampilan, cara bergaul dsb. Ibu melakukan perubahan besar-besaran.

Dan, suami mengamati perubahan ibu ini sehingga dia merasa ibu terlihat kembali bernilai. Ada rasa iri tentu, apalagi jika ibu mulai dekat dengan beberapa lawan jenis.

Sudah pasti, dia sirik bercampur cemburu ingin memiliki ibu kembali.

Kedua, suami menyesali keputusannya

Dulu waktu SMA, guru bahasa Indonesia pernah bertanya pada saya dan teman-teman satu kelas saya.

“Murid-murid.. kapan hidup terasa sangat indah?”

Waktu itu saya menjawab “saat kita banyak uang pak guru”

Semua satu kelas tertawa. Tapi ternyata jawaban saya salah. Kata guru saya, hidup terasa paling indah saat DIKENANG.

Coba ibu kenang masa lalunya yang sudah terlewat. Pasti indah, kan? Tapi dulu sewaktu ibu menjalaninya sendiri, ya terasa berat.

Sama halnya dengan suami ibu yang tiba-tiba minta kembali ini. Dulu saat menjalani hidup bersama ibu, dia selalu mengeluh dan ingin berpisah dari ibu.

Tapi setelah benar-benar berpisah, dia banyak mengenang hari-harinya bersama ibu. Ternyata indah juga, ya?

Dan kehidupan yang suami ibu jalani saat ini (mungkin bersama selingkuhannya), ternyata tak seindah hidupnya bersama ibu.

Inilah yang akhirnya membuat suami menyesali keputusannya dan ingin kembali lagi pada ibu.

Ketiga, ego suami butuh pengakuan

Ini biasanya terjadi pada suami yang selingkuh.

Ibu sudah move dari sakit hati diselingkuhi suami, suami pun sudah jarang pulang ke rumah. Ibu sudah tidak peduli dan tak lagi perhatian pada suami.

Ini membuat suami merasa tidak puas. Karena ibu menyepelekan suami. Ibu hanya fokus pada hidup ibu sendiri.

Suami ibu tidak senang, jika melihat ibu tenang dan tidak mengemis perhatian darinya. Inilah alasan suami kembali. Dia ingin ibu kembali memperhatikannya dan di saat yang sama suami tetap ingin memiliki keduanya.

Yakni ibu dan selingkuhannya.

Keempat, suami sudah berubah

Mungkin saja perpisahan sementara antara ibu dan suami membuat suami introspeksi diri, melakukan perbaikan kemudian ingin kembali memulai dari awal dengan ibu.

Ini benar-benar terjadi dan ada klien saya yang seperti ini. Beliau meminta bantuan saya agar istrinya bisa luluh hatinya dan mau menerimanya kembali.

“Saya kalau gak minta bantuan Mbak Meida, takut ditolak istri”, seperti itu kata beliau.

Sewaktu itu beliau memaharkan Kalung Sakinah kemudian dihadiahkan ke istrinya. Saya juga disini tidak sembarang memberi sarana spiritual ke klien pria ya.

Saya lihat dulu ketulusan hatinya, saya perhatikan keseriusannya dalam berubah. Alhamdulillah itikad baik itu memang ada dalam diri klien saya ini. Itulah kenapa kemudian saya bantu.

Kelima, karena zona nyaman suami adalah ibu

Suami sudah berkelana, sudah mencoba hidup sendiri tanpa perhatian dan kepedulian dari ibu. Tapi setelah dirasakan ternyata zona ternyamannya adalah ibu.

Itulah kenapa dia akhirnya memilih untuk merayu ibu dan meminta ibu kembali.

Keenam, suami ibu mengalami kebingungan

Biasanya ini terjadi pada kasus suami yang selingkuh. Jadi, suami ibu alami kebingungan antara memilih ibu atau selingkuhannya.

Suami ibu di posisi ini belum mampu membuat keputusan. Apakah mau fokus pada istri atau memilih selingkuhannya. Nah, karena kebingungannya inilah suami akhirnya kembali lagi pada ibu.

Sebenarnya kebingungan ini hal yang bagus ya. Karena ini adalah celah dimana ibu bisa menguatkan ikhtiarnya baik itu ikhtiar lahir maupun batin khusus untuk membuat suami kembali bersimpati.

Inshallah ikhtiar yang dilakukan pada momen suami bingung membuat keputusan, adalah ikhitar yang inshallah akan segera mendatangkan hasil yang bagus.

Ketujuh, suami ibu ingin serius berpisah secara baik-baik

Ada lho kasus seperti ini.

Dimana istri sudah mampu move on kemudian suami kembali bersikap baik pada ibu. Tujuannya bukan untuk kembali memperbaiki hubungan tapi ingin mempertegas keputusannya berpisah secara baik-baik dengan ibu.

Jadi, itulah 7 alasan mengapa suami tiba-tiba kembali pada istri yang telah move on. Ada alasan yang menyakitkan, ada alasan yang bikin bahagia dsb.

Jika ibu bertanya pada saya, “saya harus menerima suami kembali atau tidak Mbak Meida?” Saya tidak bisa membuat keputusan.

Keputusan kembali atau tidak itu adalah HAK ibu pribadi yang membuatnya. Ibu siap tidak menanggung resiko ke depan. Ibu mampu tidak menanggung resiko yang mungkin saja lebih menyakitkan dari masa lalu.

Jika siap dan mampu, silakan dilanjutkan. Tapi, kalau masih bingung membuat keputusan. Dan, benar-benar butuh arahan, boleh konsultasi ke saya.

Bisa melalui DM instagram, inbox facebook maupun nomor konsultasi di 08111 264401. Atau bisa juga klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Berikhtiar Mendapat Bimbingan <<

Loading

Mengapa Istri Memilih Bertahan Meski Tidak Bahagia?

Sebelum saya menjelaskan apa alasan istri memilih bertahan dalam rumah tangga meski tidak bahagia, saya mau tanya dulu pada ibu. Kira-kira ada tidak ya disini istri yang merasa tidak bahagia?

Apa yang membuat ibu merasa tidak bahagia dengan pernikahannya? Silakan ditulis di kolom komentar, saya mau baca satu per satu.

Jadi, setelah saya baca “rasa tidak bahagia dalam rumah tangga” disini bervariasi ya. Dan, semuanya diuji dengan masalah yang beragam.

Semua rumah tangga memang selalu diuji sesuai porsinya masing-masing. Ada yang diuji masalah finansial, anak, kesehatan, mertua, tetangga dan ada juga istri yang diuji oleh suami sendiri.

Apapun masalah dan ujian yang saat ini sedang menghampiri rumah tangga ibu, jangan putus asa dulu. Semua bisa diikhtiarkan.

Ibu bergabung di live streaming saya ini pun, ini juga bentuk ikhtiar. Sharing kasus yang dialami, kita bahas bersama, kita cari solusi bareng disini. Dan, saya juga akan bantu doakan.

Bukan hanya saya yang mendoakan, ada banyak follower saya di Instagram, Facebook, TikTok dan YouTube disini juga membantu mendoakan. Pernah dengar ya kalau ada lebih dari 40 orang yang mendoakan inshallah doa kita akan lebih mudah diijabah. Jadi, jangan ragu minta doa di kolom komentar ini.

Nah, tadi ibu sudah menulis ya beberapa hal yang membuat ibu merasa tidak bahagia dengan pernikahannya. Pertanyaan saya persis sesuai judul live streaming saya kali ini, “Mengapa Memilih Bertahan Meski Tidak Bahagia?”

Ibu tahu betul bahwa ibu tidak bahagia dengan segala alasan yang beragam. Tapi kenapa memilih bertahan? Coba tulis lagi alasannya di kolom komentar. Saya ingin tahu apa alasan ibu bertahan.

Baik, cukup beragam ya alasannya.

Berdasarkan pengalaman saya yang alhamdulillah tiap hari mengurus ratusan klien dengan masalah rumah tangga, saya menarik benang merah disini.

Bahwa ada satu penyebab mengapa ibu bertahan yakni, “istri terlalu bergantung pada ikatannya dengan suami, sehingga ini membuat istri merasa tidak cukup yakin dalam membuat keputusan.”

Ingat ya dan tolong digarisbawahi, istri terlalu bergantung pada ikatannya dengan suami. Bukan karena menganggur dan tidak bekerja. Bukan karena tidak berpendidikan. Bukan karena anak.

Ada banyak klien saya yang sangat mandiri. Tidak bergantung secara finansial pada suami, tapi tetap bertahan meski terus disakiti suami.

Ada klien saya yang S2 dan S3 yang saat ini tidak bekerja, tapi kalau mau memulai karir sangat mudah bagi mereka. Tapi, mereka tetap bertahan meski sama suaminya sering disakiti.

Jadi, bergantung pada ikatan disini tidak melulu soal ketergantungan finansial melainkan ada juga istri yang ketergantungan emosi dan sosial. Saya akan contohkan satu per satu kasus klien saya agar bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Pertama, istri yang bergantung pada suami secara emosional. Semalam saya baru saja membuat instagram story ya mengenai judul live streaming ini.

Dan, bisa saya katakan 70% follower saya menyebutkan masih cinta dan sayang sama suaminya. Jadi, tidak bisa meninggalkan.

Mungkin saja ibu-ibu ini usia pernikahannya ada yang sudah puluhan tahun, kemana-mana sudah terbiasa ada suami.

Ada juga yang pernikahan masih seumur jagung tapi mungkin dulu mengenal suaminya cukup lama. Sehingga ikatan emosional diantara keduanya sangat kuat.

Ada lagi klien saya yang dulunya itu non muslim ya kemudian menjadi mualaf karena ikut suami. Setelah beberapa lama menikah dengan suaminya, akhirnya jatuh cinta beneran dengan agama Islam.

Diajari suaminya tentang tauhid dsb. Nah, suaminya ini adalah perantara antara pribadi klien saya dengan Tuhannya. Karena jasa suaminya inilah, klien saya merasa butuh sosok suami.

Inilah yang disebut dengan ketergantungan emosional. Adakah ibu-ibu disini yang mengalami ketergantungan emosional dengan suaminya?

Yang kedua, ada istri yang alami ketergantungan sosial. Dari hasil survey setelah buat story instgaram semalam ya, ada banyak juga ibu-ibu yang memberikan alasan “keluarga besar, lingkungan dan teman-teman.”

Jadi mereka bertahan dalam rumah tangga meski tidak bahagia, karena takut dengan cap buruk dari lingkungan sosial ini tadi.

Takut dikatain tidak becus urus rumah tangga, takut jadi bullyan keluarga besar, takut jadi janda di hadapan teman-teman dsb.

“Bertahan gak apa-apa deh, yang penting status sosial aman dulu!” Seperti itu kurang lebih jeritan hati mereka yang bergantung secara sosial dengan suaminya.

Nah biasanya yang alami ketergantungan sosial dengan suami ini adalah orang terpandang. Takut karirnya rusak, takut imejnya jadi buruk dsb.

Mereka ini istri-istri yang mampu hidup tanpa suami jika dipandang dari segi finansial. Tapi jika dipandang dari segi sosial, mereka bimbang jika harus berpisah dari suaminya.

Yang ketiga, ada istri yang alami ketergantungan finansial. Yang ini sudah jelas, mereka adalah istri yang tidak bekerja, tidak berkarya, tidak memiliki penghasilan. Sehingga sangat bergantung pada suami.

Mereka jelas tidak memiliki keberanian untuk membuat keputusan karena tidak memiliki daya. “Jika saya pilih berpisah, nanti bagaimana kehidupan saya selanjutnya? Saya juga mungkin tidak akan mampu menghidupi anak-anak saya.”

Kurang lebih seperti itu jeritan hati para istri yang kebetulan secara finansial ini bergantung pada suaminya.

Jadi, seperti itu beberapa alasan mengapa istri memilih bertahan dengan suami meski tidak merasa bahagia.

Apapun yang ibu pilih, sudah pasti ada sisi baik dan buruknya. Dan, semua kembali lagi pada iabu. Jika memang pilihannya ini mengandung banyak resiko kemudian ibu siap menanggung resiko ini dalam jangka panjang, maka silakan lanjutkan.

Tapi, jika resiko-resiko yang hadir membuat ibu tidak kuat menanggungnya apalagi sudah terlihat dampak buruknya, seperti mengganggu kesehatan ibu, fokus dan konsentrasinya terganggu, performa bekerjanya juga menurun, kualitas mendidik anak juga memburuk, ini berarti keputusan ibu tidak membawa manfaat dalam hidup ibu.

Dari apa yang sudah saya jabarkan disini, apabila masih ada kendala, kebingungan dalam membuat keputusan. Atau ibu ingin mendapatkan bimbingan lahir batin terkait masalah rumah tangga yang ibu alami, jangan sungkan untuk hubungi saya.

Melalui chat WhatsApp maupun telepon di nomor konsultasi 08111 264401 atau melalui klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Berikhtiar Melalui Bimbingan Mbak Meida <<

Loading

Jangan Rujuk dengan Suami yang Tlah Membuangmu! Ini 5 Alasannya

Apakah suami ibu melakukan KDRT, berselingkuh atau tidak menafkahi, sebaiknya ibu tidak terburu-buru untuk memilih kembali bersama dengan suami.

Mungkin posisi ibu saat ini sudah mantap untuk berpisah. Tapi melihat anak-anak yang nanti ke depannya akan terkena dampak perceraian kemudian keluarga besar juga menyarankan untuk bertahan, akhirnya hati ibu goyah.

Berpisah atau berbaikan ya?

Persis seperti kebimbangan yang dialami klien saya. “Saya mantap berpisah Mbak Meida. Karena suami sudah membuang saya dan anak-anak. Dia terus menerus mengulangi kesalahannya padahal saya selalu memaafkan. Saya lelah dengan kehidupan yang seperti ini. Tapi, anak-anak saya begitu mencintai ayahnya meskipun ayahnya bangsat seperti itu.”

Pada kesempatan kali ini, saya akan jelaskan beberapa alasan mengapa sebaiknya istri tidak balikan atau rujuk atau berbaikan lagi dengan suami yang telah membuangnya.

Namun sebelum itu, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 085867777797 atau klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

 >> Saya Siap Ikuti Konseling Rumah Tangga <<

Melalui nomor tersebut, ibu bisa menjelaskan masalahnya secara detil dan jujur. Berdasarkan hal tersebut, saya akan membantu mengarahkan sikap apa yang perlu ibu ambil, bagaimana cara menghadapi suami dsb.

Sehingga ke depannya, tidak ada penyesalan terhadap keputusan yang ibu lakukan.

Pertama, merusak harga diri ibu

Balikan dengan suami yang telah membuang ibu, sama saja menyakiti harga diri ibu sendiri. Mungkin sebelumnya ibu diselingkuhi.

Yang mana perselingkuhan ini tentu telah merusak kepercayaan diri ibu. Ibu merasa direndahkan, ditolak dan tak dicintai lagi.

Saat ibu kembali dengan suami, maka ibu akan merasakan kesengsaraan batin yang sama seperti dulu dan akhirnya ini bisa merusak harga diri ibu.

Kedua, beberapa masalah rumah tangga sulit dicari jalan keluarnya

Contohnya, KDRT!

Pelaku kekerasan seringkali melakukan kekerasan dalam keadaan sadar dan berulang. Tentu pelaku kekerasan ini butuh terapi dan penanganan ekstra.

Jika ibu kembali dengan suami yang selalu melakukan KDRT, sebelum suami ibu mendapatkan terapi dan penanganan ekstra, maka akibatnya fatal!

Kemungkinan besar, ibu akan disiksa lagi.

Ketiga, sulit mengembalikan kepercayaan

Apalagi jika terjadi pengkhianatan sebelumnya. Ada rasa bersalah dari orang yang berselingkuh dan ada rasa tidak percaya dari orang yang diselingkuhi.

Keduanya sama-sama terluka dan sulit untuk kembali jujur, terbuka dan percaya pada pasangannya. Maka, perhatikan baik-baik ibu ya sebelum memutuskan balikan dengan suami yang dulu pernah membuang ibu.

Keempat, kalian sangat dekat dengan perceraian

Kembali setelah ada konflik hebat adalah hal yang luar biasa. Tapi ini perlu diwaspadai!

Karena hubungan ibu dan suami sesungguhnya sangat rapuh. Kalian rentan dengan emosi dan masalah yang sepele. Dan, sangat mungkin terjadi apabila ada konflik sepele, kalian tidak akan segan-segan untuk berpisah begitu saja.

Kelima, balikan dengan suami berarti ibu tak menghargai diri sendiri

Ibu sudah dibuang!

Dibuang berarti ibu dianggap tidak berharga, ditolak, direndahkan dan tidak diharapkan kembali. Dengan segala rasa sakit yang ditorehkan suami ini, ibu masih mau jika diajak berbaikan dan kembali?

Jika ibu lakukan, ini berarti ibu tidak menghargai dirinya sendiri. Disini ibu harus mampu membedakan ya, antara dihargai suami atau dicari hanya saat butuh.

Loading

WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp