Kalau Selingkuhan Suamimu Gen Z, Labrak Pakai Ini Biar Mundur Teratur

Beberapa bulan terakhir, satu kalimat ini semakin sering keluar dari mulut klien-klienku bun.

“Mbak… aku udah ngelabrak. Tapi selingkuhan suamiku malah nantangin.”

“Setelah kulabrak, pelakor itu malah kirim foto dan video mesumnya sama suamiku. Tiap hari. Kayak sengaja mau hancurin mentalku.”

Klien-klienku bukan perempuan lemah. Mereka bekerja, mandiri, secara sosial terpandang. Tapi di hadapanku, banyak klienku duduk dengan pasrah dan hampir menyerah. Bukan karena kalah cantik. Bukan karena kalah harta. Tapi karena mereka gak paham permainan pelakor Gen Z, gak tahu malu dan gak tahu diri.

Dan karena ketidaktahuan inilah, banyak istri sah salah strategi! Hari ini bun, aku mau sharing strategi melawan pelakor gen z yang lagi marak godain pria milenial usia 40an, suami orang yang dianggap mapan finansial dan emosional.

Nah, sebelumnya bun! Seperti biasa, silakan catat dulu kontak konsultasiku di +62 877-7396-4009.

Bunda bisa ceritakan masalah rumah tangganya kepadaku, termasuk jika suaminya lagi kecantol pelakor gen z atau wanita penggoda yang bener-bener kekeuh mau dapetin suami bunda lahir batin, gak tahu malu, gak tahu diri. Aku akan kasih solusi, treatment sesuai dengan kondisi yang bunda alami saat ini.

Sejak 2 tahun terakhir, meja konsultasiku ramai sama kasus perselingkuhan yang melibatkan gen z bund. Jadi, usia suami klien dengan selingkuhannya terpaut cukup jauh yakni 20 tahun an.

Nah dalam kasus-kasus perselingkuhan lama, pelakor biasanya masih punya rasa sungkan. Masih takut ketahuan. Masih cemas dicap buruk. Sehingga kalau dilabrak sama istri sah atau ketahuan oleh publik, mereka pilih mundur dan menjauh.

Tapi pelakor Gen Z berbeda! Dan, ini real aku temukan di hampir semua kasus perselingkuhan klienku.

Gen Z tumbuh di era, di mana aib tidak lagi disembunyikan, tapi dipublikasikan. Selingkuh bisa jadi konten. Cerai bisa jadi status. Move on bisa jadi story.

Dalam penelitian Pew Research Center (2023) tentang relasi dan konflik generasi muda, Gen Z tercatat sebagai generasi dengan toleransi konflik paling rendah dan kemampuan move on paling cepat. Mereka tidak bertahan dalam rasa bersalah. Mereka pindah.

Nah bagi mereka, bertahan dalam rasa malu justru lebih menyiksa daripada dicap jahat sebagai perebut laki orang. Itulah kenapa, saat istri sah melabrak dengan emosi, mengungkap aibnya yang mana mau jadi peliharaan suami orang, yang terjadi pada gen z bukan penyesalan. Tapi perlawanan balik.

Itulah kenapa, aku sebut mereka gak tahu diri, gak tahu malu. Mereka tidak mundur. Mereka menyerang. Jiwa mudanya, jiwa perangnya, jiwa kompetisinya ini sangat tinggi.

Sehingga, jika bunda kebetulan suaminya selingkuh sama gen z, maka melabrak, mengingatkan, membuka aib mereka, itu percuma. Habisin waktu, tenaga dan materi. Karena mereka tidak akan mundur hanya karena dibongkar aibnya.

Real terjadi pada klienku bun, yang awalnya, ketika tahu suaminya selingkuh, beliau menangis, menegur, melabrak, menghubungi pelakor agar menjauhi suaminya, tapi hasilnya?

Suaminya semakin defensif alias menutup diri dan menghindar. Si pelakor gen z semakin agresif. Dampaknya, rumah tangga klienku hampir saja hancur. Bahkan suaminya berkata, “kamu bikin aku capek. Dia lebih dewasa ngadepin masalah.”

Padahal, yang disebut “dewasa” itu hanyalah tidak ribut, tidak menuntut, dan tidak mengikat. Nah Gen Z ini cerdik dan licik. Mereka tahu cara membuat pria merasa bebas tapi penting.

Disinilah letak jualan gen z. Bunda mungkin berpikir kalau suami selingkuh sama gen z itu karena cari yang cantik, muda, kinyis kinyis. Itu bonus bun!

Suami bunda, awalnya, tertarik sama gen z karena dia merasa dibutuhkan, dianggap penting, dianggap pahlawan. Sama seperti pola perselingkuhan yang lagi tren, yakni wanita ini mendekati suami bunda melalui curhat.

Nah umumnya yang dicurhatin gen z ini 2 hal bun. Pertama, soal uang. Gen z ini pemasukannya sedikit, tapi hidupnya konsumtif bahkan di saat bersamaan banyak diantara mereka yang menjadi sandwich generation alias harus menafkahi orang tua maupun adiknya.

Sehingga, hal ini bikin para gen z kesulitan menabung. Ini sering dikeluhkan ke suami orang.

“Om.. ajarin aku nabung dong”

“Ih bapak kok pinter atur uang sih”

“Orang kaya aku bakal sukses gak ya pak, soalnya uang keluar terus buat orang tua sama adik”

Lalu tema curhatan kedua adalah soal rasa kesepian. Gen Z ini paling rame dan aktif di medsos bahkan seringkali mereka pintar main medsos sehingga mendatangkan banyak follower.

Tapi di kehidupan nyata, mereka kesepian, kesulitan membangun ikatan emosional kuat dengan lingkungan sosialnya. Ini juga sering jadi bahan curhatan gen Z ke suami orang bun seperti,

“gak tahu kenapa, tapi capek banget jalani hidup”

“gimana ya pak, caranya tahu tujuan hidup atau biar hidup ini ada maknanya”

Kemudian, dengan perasaan bangga karena merasa dibutuhkan, suami bunda akan memberikan nasehat, masukan, bantuan. Lalu ditimpali sama penggoda gen z dengan kalimat-kalimat sederhana,

“om tuh ngerti aku banget”

“aku nyaman cerita sama bapak”

“kalau nggak ada bapak, aku nggak tahu harus gimana”

“bapak tuh panutanku banget”

Kalimat ini gak romantis. Tapi mengaktifkan ego pahlawan pria.

Dalam Journal of Men’s Studies (2018) dijelaskan bahwa pria usia 40-an rentan mengalami identity crisis yakni takut tidak berguna, takut tidak diinginkan, takut menua.

Apalagi jika di rumah, perannya terasa mengecil karena istri sibuk, anak udah mandiri, hidup jadi berjalan bak rutinitas yang membosankan.

Nah gen Z datang membawa ilusi,

“aku butuh kamu”

“aku mengagumimu”

“aku aman sama kamu”

Ini lebih candu daripada seks.

Nah secara spiritual, Gen Z tumbuh di era overstimulasi digital. Aura mereka tajam, cepat, defensif. Empatinya ada, tapi dangkal dan sulit membangun ikatan emosional yang dalam serta untuk jangka panjang.

Nah saat istri sah datang dengan marah, menangis, memohon, mengancam, energi itu justru membuat batin suami semakin panas dan pelakor gen z merasa adem.

Bukan karena pelakor lebih baik. Tapi karena istri datang membawa hawa panas, sementara pelakor datang membawa ilusi ketenangan karena gak pernah menuntut apapun, gak pernah bereaksi dengan marah.

Di titik ini, banyak istri tanpa sadar kehilangan energi feminin. Energi feminin tingkat tinggi bukan tentang cemburu, posesif, drama atau mengemis cinta.

Energi feminin tingkat tinggi adalah mampu bersikap tenang, stabil, mampu menerima apapun yang udah terjadi tanpa kehilangan harga diri.

Dalam dunia spiritual, batin pria selalu pulang ke tempat yang paling tenang. Klienku bun yang kebetulan pada kecantol pelakor gen z ini akhirnya berhenti melabrak. Aku larang untuk kepo, memata-matai, melabrak atau menghubungi pelakor.

Sebaliknya, aku bantu klien ikhtiar Buka Aura Feminin Energy. Dalam sesi Buka Aura Feminin Energy, yang pertama aku lakukan bukan mengutuk pelakor. Tapi menenangkan batin istri.

Karena selama istri panas, batin suami tidak akan pernah kembali. Jadi, aku bantu klien untuk mengontrol emosinya, melepaskan dendam, mengembalikan pusat ketenangannya, mengaktifkan kembali energi “rumah.”

Sehingga pelan-pelan, perubahan terjadi. Memang tidak terjadi secara instan. Tapi perlahan akan mulai terasa. Suami klienku mulai lebih sering pulang cepat, malas buka chat pelakor, mengeluh capek dengan drama wanita penggoda yang suka curhat masalah pribadi dan keluarganya dan tanpa sadar berkata, “entah kenapa di rumah lebih tenang.”

Pelakor Gen Z tidak diusir. Tidak dilawan. Tapi ditinggalkan secara emosional.

Karena Gen Z bermain di energi yang cepat, instan, emosi tinggi, validasi singkat. Maka istri sah perlu lawan dengan energi feminin tingkat tinggi bermain pada energi ketenangan, dalam, stabil, melekat.

Pelakor Gen Z terasa menyenangkan di awal. Tapi melelahkan dalam jangka panjang karena terlalu bergantung, seringkali egois dan hanya memikirkan diri sendiri serta tidak bisa menjadi pendengar sekaligus pendukung yang baik bagi pria.

Sedangkan istri dengan aura feminin yang utuh… adalah tempat pulang. Nah kalau selingkuhan suamimu Gen Z bun, jangan dilawan, dilabrak atau dibongkar aibnya.

Mereka tidak punya rasa malu. Tidak takut dicap salah. Mereka tidak peduli luka istri sah. Melawan mereka hanya akan membakar emosi suami lebih parah.

Yang perlu diademkan bukan pelakor, tapi otak dan batin suami. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan energi feminin tingkat tinggi. Bukan dengan teriakan, air mata. Tapi dengan ketenangan yang membuat suami sadar, rumah bukan tempat ribut, tapi tempat pulang.

Nah secara detail bun Buka Aura Feminin Energy akan membantu menenangkan batin suami, mengembalikan fokus emosinya, membuat pelakor terasa bising dan melelahkan hingga menguatkan posisi istri tanpa merendahkan diri.

Buka Aura Feminin Energy bisa dilakukan jarak jauh melalui video call maupun datang langsung ke kantorku bun, Samara Holistic Center di Kudus, Jawa Tengah.

Inshallah pasca bunda Buka Aura Feminin Energy, tiap sentuhan bunda ke kulit suami, gerak gerik hingga aroma tubuh bunda akan mudah sekali bikin suami nyaman, tenang, aman. Efeknya, suami betah lama-lama sama bunda, lalu perlahan mengurangi intensitas komunikasi serta pertemuan dengan pelakor gen z.

Kalau sudah begini, saatnya bunda beraksi, yakni baca doa-doa peluluh hati yang kuberikan khusus sehingga batin suami pelan-pelan terkunci hanya untuk bunda. Rayuan, provokasi, godaan, curhatan jenis apapun, gak gampang bikin suami bunda baper.

Pikiran logisnya mulai aktif dan mampu memfilter, mana yang baik untukku dan keluargaku. Nah, untuk informasi lengkap terkait Buka Aura Feminin Energy atau mau langsung daftar bund, bisa klik link di bawah ini, bunda nanti akan langsung menuju chat WhatsApp otomatis.

>> Saya Siap Buka Aura Feminin Energy <<

Ingat! Kalau istri tenang dan utuh… validasi sehebat apa pun dari Gen Z akan runtuh dengan sendirinya. Aku tunggu pesan bunda ya..

Loading

Copyright © 2026 Mbak Meida
WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp