Istri Hanya Butuh Feminine Energy untuk Bikin Suami Setia Sampai Mati

Banyak istri datang ke aku dengan kalimat yang hampir sama.

“Mbak, aku capek.”

Bukan capek fisik saja, tapi capek batin. Capek menahan, capek kuat, capek pura-pura baik-baik saja.

Mereka adalah istri-istri yang oleh lingkungan disebut istri serba bisa bun. Bangun paling pagi, tidur paling malam.

Mengurus anak, rumah, suami, keuangan, masih kerja juga bahkan urusan emosi semua orang di rumah juga diurus. Ayo siapa yang kaya gini?

Tapi anehnya, semakin serba bisa, semakin jarang diapresiasi. Semakin kuat, semakin dianggap wajar. “Ya memang tugas istri,” begitu kata suami.

Nah tanpa sadar, banyak istri hari ini hidup bukan sebagai wanita yang menikmati perannya, tapi sebagai perempuan yang bertahan hidup.

Tubuh dan batin mereka masuk ke mode bertahan terlalu lama. Dan saat mode bertahan ini berlangsung bertahun-tahun, ada satu hal yang pelan-pelan hilang yaitu energi feminin.

Dan ini masalahnya sama persis dengan klienku yang kemarin datang langsung ke kantorku di Kudus, Jawa Tengah untuk ikhtiar buka aura.

Suaminya selingkuh tapi masih menafkahi lahiriah dengan baik, sedangkan batiniah istri sangat hampa.

“Aku kurang diperhatikan, sejak pertama kali menikah, suami gak pernah bilang terima kasih, dia sibuk kerja terus kalau sampai rumah, sibuk sama HPnya.”

“Dan, kalau malam, aku tuh pingin banget pillow talk gitu mbak, tapi kalau aku curhat, tanggapan suami cuma diam.”

Ungkap klien.

Bayangkan bun, sudah diselingkuh masih dianggap gak ada sama suami. Sampai-sampai klienku ini merasa ada suami tapi kok kaya janda ya.

Secara psikologis, wanita yang terus berada di mode bertahan akan menekan emosinya sendiri. Dia jarang minta tolong. Jarang mengeluh. Jarang merasa berhak dimanja.

Semua dikerjakan pakai logika, bukan rasa. Lama-lama jiwanya jadi kaku. Sensitif, mudah tersinggung, tapi juga mati rasa. Capek, tapi tidak tahu harus mengadu ke siapa.

Secara spiritual, kondisi ini membuat aura feminin melemah. Energi lembut yang seharusnya mengalir berubah menjadi energi keras. Bukan karena istri ingin bersikap galak, tapi karena seluruh energinya dipakai untuk menahan, bukan merasakan. Di titik ini, rumah tangga sering kehilangan kehangatannya.

Banyak suami gak sadar akan proses ini. Mereka menikmati rumah yang berjalan rapi, anak terurus, kebutuhan terpenuhi. Tapi mereka tidak menangkap sinyal batin istri yang perlahan lelah karena gak pernah dibantu.

Bahkan lebih parahnya dalam rumah tangga klienku ini, karena suami melihat istri sibuk sendiri, akhirnya dia selingkuh! Kurang ajar sekali kan!

Sudah membiarkan istri mengerjakan semuanya sendiri, masih diselingkuhi dengan alasan “istri berubah jadi galak, cerewet dan sibuk sama dunianya sendiri.”

Tanpa suami sadari bahwa perubahan istri ini, juga ada andil dari sikapnya yang cuek, gak pernah membantu istri, gak pernah peduli dan menjadikan istri berubah ke mode bertahan hidup.

Yang perlu dipahami, suami tidak selalu selingkuh karena istri kurang cantik atau kurang baik. Banyak kasus justru terjadi pada istri yang terlalu baik, terlalu kuat, terlalu bisa diandalkan.

Masalahnya bukan pada kurangnya usaha istri, tapi pada hilangnya energi feminin yang seharusnya menjadi magnet alami dalam rumah tangga.

Dan ini yang terjadi pada rumah tangga klienku bun. Nah mode bertahan hidup pada istri ini gak muncul tiba-tiba.

Ia terbentuk perlahan, dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele, tapi terjadi terus-menerus.

Secara psikologis, banyak penelitian menjelaskan bahwa wanita jauh lebih sering menanggung mental dalam rumah tangga.

Bukan hanya pekerjaan fisik, tapi juga pekerjaan tak terlihat seperti masak, mengingat jadwal anak, memikirkan kebutuhan keluarga, menjaga suasana rumah tetap stabil, menenangkan emosi suami dan anak, bahkan sering menekan emosinya sendiri agar tidak ribut.

Data global dari UN Women dan OECD menunjukkan bahwa wanita mengerjakan dua hingga tiga kali lebih banyak pekerjaan rumah tangga dibanding pria, bahkan ketika sama-sama bekerja di luar rumah. Masalahnya bukan di jumlah kerja, tapi di ketimpangan tanggung jawab emosional.

Saat istri terus-menerus berada di posisi “harus kuat”, tubuhnya akan masuk ke kondisi yang dalam psikologi disebut survival mode atau mode bertahan hidup.

Di mode ini, sistem saraf lebih banyak aktif di area bertahan seperti waspada, tegang, siap menghadapi masalah. Tubuh tidak diberi ruang untuk rileks. Emosi tidak diberi ruang untuk dirasakan. Semuanya dikerjakan cepat dan rasional.

Awalnya terlihat produktif. Tapi dalam jangka panjang, mode ini menguras energi feminin. Dampaknya ke istri sangat nyata.

Banyak istri dalam mode bertahan hidup mengalami kelelahan kronis tapi sulit istirahat, emosi mudah meledak atau justru mati rasa, sulit menangis, sulit merasa senang, merasa sendirian meski tidak sendiri, kehilangan rasa puas dalam berumah tangga.

Secara batin, istri mulai merasa hidupnya hanya tentang tanggung jawab. Tidak ada ruang untuk dimanja. Tidak ada ruang untuk lemah. Bahkan minta bantuan pun terasa seperti kesalahan. Di titik ini, banyak istri berkata, “Aku gak apa-apa,” padahal jiwanya sedang menjerit.

Dampaknya ke hubungan dengan suami juga sangat signifikan. Saat istri hidup dalam mode bertahan, energinya berubah. Ia tidak lagi hadir sebagai wanita yang hangat dan menerima, tapi sebagai sosok yang tegang dan penuh kontrol. Bukan karena ingin menguasai, tapi karena takut semuanya berantakan kalau ia lengah sedikit saja.

Nah klienku ini, waktu datang pertama kali ke kantor Samara Holistic Center, aku ingat betul wajahnya tenang, tapi matanya kosong.

Dia bekerja, mengurus dua anak, mengatur keuangan, hampir tidak pernah meminta bantuan suami. Di mata orang lain, hidupnya tampak ideal. Tapi di dalam dirinya, ada kelelahan yang sudah lama tidak diakui.

Beliau berkata padaku, “Mbak, suamiku gak kasar tapi sudah selingkuh terang-terangan. Kita masih tinggal bersama, tapi tidak hidup bersama.”

Saat aku baca auranya, yang muncul bukan aura lemah, tapi aura yang sangat keras. Energi femininnya menipis karena terlalu lama menahan sakit dan beban sendirian.

Nah sampai titik ini, aku tidak meminta klienku untuk menuntut suaminya berubah. Aku juga tidak menyuruh beliau untuk mengontrol atau memata-matai suaminya.

Yang kami lakukan adalah mengembalikan koneksi klien dengan dirinya sendiri. Beliau ini sudah terlalu jauh tidak mengenal dirinya sendiri.

Nah, melalui proses buka aura, aku pelan-pelan membantu beliau melepaskan mode bertahan hidup. Aku kuatkan energi feminin dalam diri klien. Aku ajarkan klien untuk berhenti membuktikan diri sebagai wanita serba bisa.

Perubahan pertamanya sederhana, tapi berat. Beliau belajar bilang capek ke suami tanpa drama. Beliau belajar minta bantuan ke suami tanpa merasa bersalah. Beliau juga mulai merawat tubuh dan batinnya sendiri, bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai bentuk penghormatan pada dirinya.

Kalau selama ini sibuk urus anak, suami, pekerjaan, rumah sampai melewatkan kesempatan untuk mengurus diri sendiri, sekarang beliau selalu sempatkan 30 menit sehari untuk bermesraan dengan dirinya sendiri. Entah itu baca buku, luluran, nonton infotainment, dengerin musik favorit beliau.

Hal-hal sederhana yang membuat beliau merasa “ini aku banget.”

Secara spiritual, saat energi feminin mulai aktif kembali, auranya berubah. Lebih hangat. Lebih lembut. Lebih mengalir. Tanpa disadari, rumah mulai terasa berbeda. Suami klien lebih sering ajak ngobrol. Lebih betah di rumah. Lebih terbuka secara emosional. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman. Tidak ada drama.

Beberapa waktu kemudian, klienku mengirim pesan, “Mbak, sekarang aku paham. Selama ini aku terlalu sibuk jadi kuat, sampai lupa kalau aku harus jadi wanita.”

Alhamdulillah, suaminya sekarang sudah berubah tanpa dipaksa, mulai terbuka, kalau keluar rumah selalu share loc, sudah gak kontak selingkuhannya lagi.

Nah mengaktifkan feminine energy bukan berarti jadi lemah, pasrah atau bergantung. Justru sebaliknya. Energi feminin yang sehat membuat wanita kuat tanpa harus keras. Tegas tanpa harus dingin. Menarik tanpa harus memaksa.

Kalau hari ini bunda merasa capek, mudah tersinggung, kehilangan kehangatan dalam hubungan, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi bukan karena bunda kurang, tapi karena bunda terlalu lama menanggung semuanya sendiri.

Jika selama ini suami dingin, cuek bahkan selingkuh, bukan karena bunda kurang cantik, tapi energi feminin bunda yang mulai melemah karena semuanya dikerjakan sendiri, dipendam sendiri.

Dan, saat suami selingkuh, istri tidak perlu mengejar atau mengawasi terus-menerus. Dalam banyak kasus, yang perlu dihidupkan kembali adalah energi feminin istri. Energi yang membuat rumah terasa hangat, aman, menenangkan secara batin. Energi yang membuat suami ingin kembali, bukan karena takut, tapi karena rindu.

Bunda bukan superhero. Bunda adalah manusia. Dan wanita yang merawat dirinya sendiri secara batin justru memiliki daya tarik paling kuat.

Nah dari penjelasanku ini bun, jika bunda merasa “kayanya energi femininku mulai melemah deh mbak!”

“Aku merasa terlalu kuat, terlalu menahan, terlalu lama memendam”, mungkin yang kamu butuhkan bukan nasihat untuk “lebih sabar”, tapi ruang untuk kembali menjadi wanita yang feminin.

Silakan bunda boleh chat adminku melalui WA di kontak +62 877-7396-4009 atau klik link di deskripsi video ini untuk mendapatkan bimbingan aktivasi feminine energy.

Nah aktivasi feminine energy ini bisa kita lakukan jarak jauh melalui video call maupun bunda berkenan datang ke kantor Samara Holistic Center, Kudus, Jawa Tengah. Silakan jangan ragu menghubungi adminku bun, aku tunggu pesan dari bunda.

Loading

Copyright © 2026 Mbak Meida
WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp