3 Mitos Perselingkuhan Ini Palsu! Istri Cerdas Harus Cek Faktanya

Ada 3 jenis mitos perselingkuhan yang berkembang dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat kita. Tapi setelah saya belajar dari ratusan masalah klien yang berkaitan dengan perselingkuhan, 3 mitos ini ternyata tidak benar.

Dan sebagai istri yang cerdas, yang sedang semangat-semangatnya ikhtiar menjaga keharmonisan rumah tangganya, perlu mengecek faktanya.

Karena dengan memahami faktanya seperti apa, secara otomatis ibu akan lebih mampu membuat keputusan yang tepat sesuai kondisi rumah tangganya.

Sebelum saya lanjutkan, silakan catat dulu nomor konsultasi saya di 08586 7777 797 atau bisa klik chat WhatsApp otomatis di bawah ini.

>> Saya Siap Ikhtiar Ikuti Bimbingan Mbak Meida <<

Konsultasi di tempat saya bukan sekedar saya dengarkan seperti ibu yang biasanya curhat pada teman atau keluarganya. Saya menggunakan metode ilmiah yang saya gabungkan dengan ilmu spiritual.

Jadi inshallah setelah ibu mantap berkonsultasi, saya akan berikan bimbingan lahir batin sesuai kondisi rumah tangga ibu.

Apa yang perlu ibu lakukan, bagaimana menghadapi suami yang bersikap A, B, C dan D, keputusan apa yang harus ibu ambil dsb akan saya bantu arahkan.

Dan, tidak perlu khawatir karena data pribadi serta masalah klien menjadi rahasia saya. Jika ada kisah klien yang saya bagikan itu merupakan persetujuan klien bahwa kisahnya boleh dijadikan bahan pembelajaran bagi ibu-ibu semuanya.

Jangan ragu menghubungi saya, saya tunggu ya pesan dari ibu.

Mitos Pertama, selingkuh karena tak puas di atas ranjang

Memang benar!

Ada suami yang selingkuh karena tak puas dengan istrinya. Mungkin suami ini memiliki fantasi luar biasa, sedangkan sang istri tak mampu memenuhi fantasinya tersebut.

Mungkin juga sang suami memiliki hasrat berhubungan yang cukup besar, sedangkan sang istri tak mampu mengimbanginya.

Tapi, ada juga suami yang selingkuh bukan karena seks. Ini persis dialami klien saya yang merupakan seorang suami.

“Saya puas sama istri Mbak! Tidak ada yang kurang dari istri saya saat di ranjang. Tapi, sikapnya pada saya yang tidak menghormati saya sebagai suaminya, itu yang membuat saya selingkuh.”

“Karena selingkuhan saya disini sangat menghormati saya, mendengarkan dan mendukung saya secara emosional. Dan, saya berani sumpah bahwa selama dekat dengan orang ketiga ini, kami tidak berhubungan badan.”

Ini curahan hati klien saya.

Mitos Kedua, Selingkuh karena tak lagi cinta

Ibu jangan percaya mitos ini!

Karena banyak klien saya yang terlibat dalam perselingkuhan, tapi mereka masih pulang, menafkahi istrinya, menggauli istrinya, memberikan perhatian dsb pada istri.

Mereka mengaku masih cinta dan tidak ada yang kurang dari sang istri. Tapi, kenapa selingkuh? Karena mereka tak pernah puas.

Ibaratnya, suami sudah sarapan pakai nasi dan lauk lengkap di rumah. Kemudian di jalan, ketemu gerobak martabak.

Padahal masih kenyang, tapi jajan martabak. Karena syahwatnya tergoda dan dia tak mampu mengontrol syahwatnya. Itu yang sebenarnya terjadi.

Mitos Ketiga, mencari wanita yang muda dan seksi

Ini juga tidak benar!

Lagi-lagi saya contohkan kasus klien saya. Ada klien saya yang suaminya ini selingkuh dengan wanita yang lebih dewasa usianya.

Setelah ditanya, katanya dia lebih dewasa, mampu ngemong, tidak manja dan merawat saya dengan baik.

Ini bisa saja terjadi! Karena naluri pria setelah menikah, dia selalu ingin kembali pada masa lalu. Saat-saat dia dirawat oleh ibunya.

Dipuji, dilayani, diagung-agungkan oleh ibunya, diperhatikan full. Itulah kenapa ada suami yang berselingkuh dengan wanita yang lebih dewasa, karena dianggap mampu mengayomi dan memperlakukannya seperti ibunya di masa kanak-kanaknya dulu.

Nah, dari 3 mitos perselingkuhan ini ada kesimpulan yang bisa kita ambil. Yakni, ibu tidak boleh merasa rendah diri.

“Saya kalah Mbak! Selingkuhan suami lebih muda, cantik, seksi, lebih mampu memuaskannya di atas ranjang.”

Belum tentu ibu!

Tidak semua suami selingkuh mencari hal itu. Terkadang, yang dia cari adalah sifat keibuan dari seorang wanita.

Yang mendengarkan, mengayomi, mengapresiasi dan mampu menunjukkan rasa bangganya karena memiliki suami seperti dia.

Coba sekarang, ibu tunjukkan sikap-sikap seperti ini pada suami sebagai bentuk ikthiar ibu menjaga keharmonisan rumah tangganya.

Siapa tahu, melalui jalan ini nanti suami bisa kembali fokus pada ibu dan anak-anaknya. Aamiin, saya doakan yang terbaik untuk rumah tangga ibu.

WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp